Wanita berumur sekitar 35 thn-an itu sangat cantik. Wajahnya bulat telur, matanya tidak terlalu lebar, bahkan agak sipit, tipikal wanita keturunan Chinese (maaf, aku sama sekali tdk bermaksud rasialis, penggunaan istilah ini hanya untuk menggambarkan ciri fisiknya). Hidungnya mungil agak mancung sungguh serasi dgn bentuk wajahnya. Bibirnya yang sangat sangat tipis dan dibalut dgn lipstik lembut warna merah muda menambah keayuan dan kesegaran parasnya.

Rambutnya lembut tergerai lurus seleher. Ada sedikit sapuan warna pirang sekalipun tidak terlalu kentara. Sepasang kacamata hitam bertengger dgn serasinya di atas dahi mungilnya, menyisakan sedikit juntaian rambut pada poninya.

Tubuhnya yg mungil itu terbalut blus tanpa lengan warna biru cerah dgn motif kembang˛ warna putih. Model kerah yg lebar dan belahan dada yg agak rendah memperlihatkan lehernya yg jenjang dgn kulit yg begitu putih mulus. Seuntai kalung emas tipis dengan liontin berbentuk bulat melingkari lehernya seakan mempertegas kejenjangan lehernya.

Dia mengenakan bawahan rok agak mini berwarna putih polos, sangat padu dgn blus yg dipakainya. Potongan tepi rok yg pendek dan agak ketat tak mampu menjalankan tugasnya menutupi paha mulus itu. Apalagi dia duduk dgn kaki kiri bersilang diatas kaki kanannya. Wow ... sungguh pemandangan yg teramat indah untuk aku lewatkan begitu saja.

Aku terus menikmati keindahan yg terpampang tak sampai 10 meter dari tempatku duduk di food court sebuah mall di kota M siang hari itu. Wanita itu tampak sedang ber-cakap˛, dan sesekali tertawa renyah yg memperlihatkan deretan gigi putih yg sangat rapi, dgn lawan bicaranya, seorang wanita berkaus merah yg duduk membelakangi aku dan agak terhalang oleh pengunjung lain. Aku sama sekali tdk bisa mendengar suara mereka krn jarak yg agak jauh dan alunan musik dari PA di mall itu yg agak keras.

Tak tahu untuk berapa lama aku menelanjangi tubuh molek wanita itu dalam pikiranku tanpa dia sadari. Kemudian wanita itu dgn temannya bangkit berdiri dan berjalan ke arah mejaku. Saat itu aku baru bisa melihat dgn jelas sosok kawannya yg berkaus merah itu. Aku betul˛ terperanjat, wajahnya bagitu tak asing buat aku. Apakah betul dia Alina, bekas tetanggaku di kota S dulu?

Belum sempat aku sadar dari keterkejutanku, si wanita kaus merah rupanya juga sama kagetnya dgn aku. Dia agak tajam menatapku dan sekilas kemudian dia agak tersenyum dgn ragu. Dgn agak bimbang dia melangkah ke mejaku dan berkata:

"Mas Ben ya?."

Seluruh keraguanku seketika sirna. Dia adalah Alina!

Sambil bangkit berdiri aku menyapanya, "Lina ya? Wah nggak nyangka Lin bisa ketemu disini. Gimana kabarnya?"

Kami saling berjabat tangan, dan saat itu aku punya kesempatan lebih memperhatikan Lina. Dia sama sekali tdk banyak berubah dari saat terakhir kali kita ketemu tujuh thn yg lalu. Wajahnya masih ayu tanpa terlihat tanda˛ penuaan sedikitpun. Badannya masih sesexy dulu, apalagi dibalut kaus merah yg ketat dan celana jeans yg tak kalah ketatnya. Kalau pun ada yg berubah adalah rambutnya yg sekarang dibiarkan tergerai lebih panjang sampai di bawah bahu, serta pandangan matanya yg tampak lebih dewasa dan matang.

Kami masih berdiri sambil kedua tangan kami masih saling menjabat. Kemudian rupanya Lina sadar akan kehadiran si wanita temannya. Sambil menengok ke arahnya dia berkata,

"Eh Mas Ben .. kenalin ini Mei Ling, sahabat Lina."

Sambil menjabat tangannya yg mulus dgn lembut, aku berkata, "Benny."

Dia pun membalas jabatan tanganku dan dari mulutnya yg mungil meluncur suara agak serak yg terdengar begitu sexy di telingaku, "Mei Ling."

Pada kesempatan itu aku bisa memperhatikan wajah ayunya dari dekat dan ternyata dia sungguh cantik, kulitnya begitu putih mulus dan halus. Mungkin aku agak terlalu lama menjabat tangan halusnya sehingga dia agak menarik tangannnya. aku segera sadar dan melepaskan jabat tanganku.

Kami bertiga segera duduk di mejaku. Aku dan Lina saling menanyakan kabar masing˛. Kami terlibat obrolan yg agak seru, maklum sdh lbh dari 7 thn kami tdk saling berhubungan. Beberapa saat kami melupakan kehadiran Mei Ling, tapi kemudian Mei Ling mulai ikut ngobrol. Ternyata dia orangnya cukup ramah dan gampang akrab.

Kami kembali mengobrol mungkin selama 30 menit sambil memesan minuman dingin. Akhirnya aku jadi ingat ada janji dgn rekan bisnisku. Aku memang ke kota M untuk tugas kantor. Dgn sangat terpaksa aku kemudian berkata bahwa aku hrs ada urusan jadi tdk bisa ngobrol lbh lama lagi.

Kami lalu meninggalkan food court itu ber-sama˛. Mei Ling dan Lina berkeras hendak mengantar aku ke kantor rekan bisnisku itu. Kami bertiga kemudian naik mobil Mei Ling yg ternyata sebuah sedan mewah keluaran terbaru. Mei Ling memegang kemudi dan Lina duduk di depan. Aku duduk di jok belakang. Di mobil kami melanjutkan obrolan. Aku dan Lina sempat saling bertukar nomor HP.

Perjalanan itu memang tdk lama krn jaraknya tdk terlalu jauh. Sesampainya di tujuanku, aku mengucap terima kasih ke Mei Ling sambil menjabat tangannya. Kemudian tiba˛ Lina menoleh ke belakang dan tanpa basa-basi mendaratkan ciuman lembut ke pipi kiriku sambil berkata,

"Ntar sore Lina telpon ya Mas, Lina masih pengin ngobrol ama Mas Ben."
"Boleh Lin, abis jam 5 ya. Aku pasti udah balik ke hotel."

Aku segera turun dari mobil Mei Ling dan masuk kantor rekan bisnisku unt merampungkan urusanku. Kira˛ jam 4 aku selesai acara bisnisku dan dgn taxi aku kembali ke hotel tempatku menginap.

Baru saja aku selesai mandi dan sedang santai menonton TV di kamar hotelku ketika HP ku berdering nyaring. Lina menelponku sesuai janjinya. Tak lama kami bertelpon krn Lina akan segera meluncur ke hotelku.

Tak sampai sejam kemudian, Lina telah berada dalam pelukanku. Kami saling melampiaskan rasa rindu kami dgn penuh gelora asmara. Aku rasakan Lina sekarang jauh lbh ahli dalam permainan cinta dibanding dulu. Sejak peristiwa Jum'at malam itu, aku pernah bercinta 2 kali lagi dgn Lina sebelum aku boyongan ke ibukota. Setelah itu aku sama sekali tdk tahu kabar ttg Lina dan suaminya, Pras.

Dari pembicaraan di-sela˛ pelampiasan rindu kami, aku jadi tahu bahwa Lina telah bercerai dgn Pras 2 thn lalu setelah berumah tangga selama 7 thn. Ternyata Pras, diluar tahu Lina, telah menikah lagi dan punya seorang anak dari wanita itu, alasannya krn Lina tdk bisa memberikan keturunan. Ketika Lina tahu dia langsung menuntut cerai, dan sejak itu Lina pindah ke kota M, membantu tantenya yg punya bisnis catering yg cukup maju.

"Kamu masih muda dan cantik Lin, apa nggak pengin menikah lagi?"
"Kayaknya saat ini nggak ada niat kesana Mas. Lina masih trauma ama yg dulu. Kalau hanya selingkuh mungkin Lina masih bisa mengerti, tapi kimpoi lagi ...? Hmmm .. sakit sekali rasanya Mas. Dan Lina cukup happy kok dgn kehidupan Lina yg sekarang."
"Terus untuk urusan sex gimana dong Lin? Apa Lina nggak pengin yg itu juga?"

Lina agak tercenung sejenak mendengar pertanyaanku ini. Tapi kemudian dia menjawab dgn mantap,

"Lina melampiaskannya dgn seorang teman Lina, Mas. Jangan kaget ya Mas .... Lina melakukannya dgn Mei Ling."

Meskipun Lina sdh menyuruhku untuk tidak kaget, tapi apa yg keluar dari mulut Lina sungguh membuatku terkejut tak alang kepalang. Aku tak bisa berkata apa˛. Rupanya Lina melihat raut keterkejutan di wajahku, buru˛ dia menimpali,

"Jangan salah sangka Mas, kami bukan lesbi, kami berdua masih normal kok ... kami tdk punya perasaan apa˛ kecuali persahabatan. Kami melakukannya hanya unt pelampiasan saja. Menurut kami itu jalan yg paling aman dan sehat ketimbang bermain dgn lelaki sembarangan."

Aku masih belum bisa mengusir rasa kagetku.

"Kebetulan nasib Mei Ling tdk banyak berbeda dgn Lina, Mas. Dia malah sdh 2 kali kimpoi cerai. Yg pertama krn bekas suaminya suka minum dan judi dan sering main kasar. Yg kedua krn suaminya selingkuh dgn cewek lain, nggak sampai menikah seperti Mas Pras sih, tapi Mei Ling tetap terpukul. Dia sudah jera menikah lagi Mas. Kebetulan papanya Mei Ling orang kaya, jadi Mei Ling nggak butuh duit dari seorang suami kayaknya."

Aku segera mengganti pembicaraaan dan tak lama kemudian kami kembali bercinta. Kami terus menguras birahi kami sampai lewat tengah malam. Akhirnya kami berdua tertidur dgn penuh kepuasan. Paginya kami masih sempat memadu kasih sekali lagi sebelum Lina pulang ke rumahnya dan aku kembali menyelesaikan urusan kantorku.

Sore itu aku pulang ke Jkt dgn flight jam 4 tanpa sempat bertemu dgn Lina lagi. Kami hanya saling mengucapkan perpisahan lewat HP dgn janji bahwa kalau aku ke kota M lagi aku akan menghubungi Lina.

Aku memang termasuk sering tugas ke M, paling tidak 2-3 bulan sekali aku harus kesana. Dan selama aku tdk kesana, Lina kadang menghubungi aku lewat telepon atau SMS. Dan demikian juga aku, kalau pas tdk terlalu sibuk, aku pasti sempatkan mengontak Lina via HP nya.

Tak terasa hampir 3 bln berlalu, dan minggu depan aku ditugaskan boss ku ke kota M lagi. Aku segera mengabarkan berita gembira ini ke Lina dgn SMS. Dia segera menjawab kalau dia sdh sangat merindukanku. Aku balas kalau aku juga merindukan pelukannya dan aku akan berangkat Rabu pagi.

Besoknya ketika aku sedang makan siang di kantin sendirian, HP ku berdering. Aku lihat Lina yg menelpon.

"Hallo Lin"
"Hallo Mas Ben ... Mas jadi kesini kan hari Rabu?"
"Jadi dong .. udah booking tiket malah. Napa Lin?"
"Nggak papa Mas ... eh Mas, Lina mau nanya .. Mas jgn marah ya..."
"Nanya apa sih?"
"Mas Ben inget nggak waktu dulu aku pernah ngomong pengin main bertiga ama Mas ama Winda .. ?"
"Iya sih Lin ... tapi kan nggak kesampaian, Winda pasti ngamuk deh .. bisa˛ aku dicerai."
"Mas ... gimana kalau Winda di gantikan ama Mei Ling?"

Siang itu cuaca terang benderang, tak ada hujan tak ada petir. Tapi jantungku hampir copot krn terkejut mendengar perkataan Lina. Aku masih tak percaya dgn telingaku dan masih terbungkam beberapa saat.

"Gimana Mas? .... mau nggak? ... kok diam sih ... Mas Ben marah ya?"
"Eh .. Uh .... nggak ... nggak marah kok Lin ... kaget aja ... eh .. aku mau aja sih .. tapi .. eh ... apa Mei Ling mau?"

Aku jadi ter-bata˛ kehilangan kata˛,

"Lho justru dia yg ngusulin kok Mas ... ini dia di sebelahku manggut˛. Mas omong deh ama dia ..."

Belum sempat aku berkata apa˛, kemudian ada suara serak˛ merdu yg menyapaku,

"Hallo Mas Benny .. ini Mei Ling ... masih ingat nggak?"

"Buset dah .. mana bisa aku lupa ama wajah cantikmu," kataku dlm hati.

"Hai Mei Ling .. pa kabar ni? Makasih lho waktu itu aku dianterin."
"Ah .. nggak papa Mas .. aku sekalian pulang kok. Mas .. aku pengin ketemu Mas Benny lagi, bolehkan?"

Menghadapi todongan wanita cantik seperti Mei Ling, aku mana bisa berkata tidak.

"Boleh aja Ling ... Rabu depan aku ke M, kita bisa ketemuan bareng Lina."
"Iya Mas .. tapi Mas jangan nginap di hotel yg dulu itu ... banyak temen papa yg sering nginap disitu, nggak enak kalau sampai kepergok .. nanti deh aku yg pesenin hotelnya .. Lina yg akan kasih kabar."
"O .. nggak masalah Ling .., mau tidur dimana juga boleh .. asal Mei Ling yg nemenin .."
"Nah tuh kan ... mulai keluar genitnya ... ok aku tunggu ya Mas ... ini Lina mau ngomong lagi."
"Gimana Mas? ... maukan ama Lina ama Mei Ling?"
"Mau dong Lin."
"Tapi Mas ... bisa nggak berangkatnya Selasa sore aja ... soalnya Rabu Lina diajak tante keluar kota 3 hari ... kalau Mas datengnya Rabu nggak jadi dong rencana kita. Gimana Mas?"