Sore itu, di pusat kota Roma, sebuah tandu yang diusung empat orang budak pria berbadan tegap dan berkulit gelap diiringi dua orang budak wanita meninggalkan sebuah gedung pertunjukan teater. Sebenarnya mereka tidak sendirian, karena beberapa orang budak lain juga mengusung tandu-tandu yang sebagian besar berisikan petinggi Romawi meninggalkan gedung pertunjukan. Pada masa itu, pertunjukan teater menjadi hiburan yang umum dan digemari oleh masyarakat Romawi, khususnya kalangan atas dan terpandang. Namun di antara tandu yang meninggalkan gedung teater, tandu yang dengan kelambu biru langit transparan serta diusung empat orang budak itulah yang menjadi perhatian utama masyarakat sekitar. Beberapa orang memberikan jalan dan bahkan memberi salam pada sosok yang berada di atas tandu.

Siapakah yang berada di dalam tandu itu?

Seorang gadis cantik menyembulkan kepala dari balik kelambu tandu sambil mengayunkan kepala terhadap beberapa orang teman yang menyapanya. Wajah gadis berusia 17 tahun itu sangat cantik dan sedang mekar-mekarnya, rambutnya yang berwarna coklat panjang bergelombang menambah aksen keindahan tubuhnya yang tinggi langsing dan mata biru yang mempesona memancar penuh kehangatan. Nama gadis itu adalah Claudia Faustina. Tidak ada orang di Roma yang tidak kenal kepadanya, terlebih ia adalah putri jenderal kenamaan pasukan Romawi yang bernama Suetonius, pahlawan perang dan sosok yang amat disegani di kalangan petinggi Romawi.

Claudia dikenal sebagai salah satu wanita tercantik di Roma saat itu, sampai-sampai sang kaisar Tiberius (42 SM-37 M) pun memuji kecantikannya ketika berkunjung ke rumah Suetonius. Sang kaisar membandingkannya dengan Hellen dari Troy, putri legendaris yang kecantikannya memicu Perang Troya yang terkenal itu. Tiberius sendiri memiliki kecenderungan seksual yang lebih menyukai anak-anak di bawah umur alias pedofil, sebenarnya hal ini bisa dikatakan suatu berkat bagi Claudia karena kalau Tiberius tertarik padanya pasti ia sudah dijadikan selir oleh sang penguasa yang lebih pantas jadi kakeknya itu, hidup sebagai selir seorang kaisar tentunya akan sangat berkecukupan dan bergelimang harta. Namun ayahanda Claudia, Suetonius telah mempertunangkan Claudia dengan Vitelius, putra salah seorang kolega. Menurut rencana, Suetonius akan menikahkan keduanya setelah ia dan pemuda itu kembali dari kampanye militer menumpas pemberontakan Yahudi yang baru-baru ini meletus di daerah pendudukan Romawi di Timur Tengah.

Selang beberapa saat kemudian, tandu itu sampailah di depan gerbang kediaman keluarga Suetonius yang megah. Beberapa orang prajurit penjaga yang mengenali memberikan salam lalu segera membukakan gerbang. Claudia menjejakkan kaki ke tanah dan keluar dari tandu dibantu oleh salah seorang budak wanita yang mengiringi perjalanannya.

“Aku lelah sekali hari ini, ingin beristirahat sebentar. Pasti kalian juga begitu, pulang dan beristirahatlah !” kata Claudia pada para budak yang sedari tadi mengiringi.

Setelah memberikan salam, keempat budak pria dan kedua budak wanita kembali ke tempat pemondokan mereka yang juga berada di komplek rumah dinas Suetonius.

Claudia menyusuri koridor rumahnya yang besar dan megah, disisi-sisinya terdapat patung-patung antik bergaya Romawi, di beberapa sudut juga terdapat koleksi barang-barang yang didapat oleh Suetonius semasa perang di berbagai wilayah kerajaan Romawi, mulai dari wilayah suku Germanik di utara sampai ke timur tengah. Claudia ingin mengunjungi ibunya sebentar sebelum masuk ke kamar dan istirahat, namun di depan kamar ibunya ia mendengar sesuatu.

Suara itu adalah desahan nafas penuh nafsu yang keluar dari mulut sang ibu!

Dengan jantung berdetak kencang, Claudia menempelkan telinga ke pintu yang masih tertutup. Selain suara desahan ibunya, Claudia juga mendengar suara erangan pria. Siapa gerangan pria yang berada di kamar ibunya? Ayahanda Suetonius masih berada di medan perang Israel dan baru akan kembali kemungkinan akhir tahun ini, lalu siapa yang berada di dalam kamar sang ibu?

Pelan-pelan ia mencoba mendorong pintu itu tapi tidak bergerak, sepertinya dipalang dari dalam. Karena penasaran, maka gadis itupun memutar keluar dan mencoba melihat melalui jendela. Jendela kamar ibunya terletak di sudut yang agak terpencil dari rumah dinas yang megah ini, ia berharap menemukan celah untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Claudia begitu tercekat dan jantungnya serasa mau berhenti begitu melihat dari celah jendela bermozaik yang sedikit terbuka untuk keluar masuknya udara.

Ia melihat dengan mata kepala sendiri, ibunya yang telanjang bulat tengah digumuli oleh dua orang budak Nubia (sekarang wilayah Afrika Utara) yang ia tahu bernama Kasha dan Pyankhi. Valeria, ibu Claudia dan istri Suetonius adalah seorang wanita berusia 34 tahun yang cantik, tubuhnya masih ramping dan seksi walaupun pernah melahirkan Claudia. Ia memiliki rambut hitam sedada yang lurus, biasanya disanggul seperti umumnya wanita-wanita Roma yang sudah menikah. Nampaknya mata biru Claudia yang indah itu adalah warisan dari ibunya karena mata mereka memang mirip, sama-sama biru dan menawan.

Valeria saat itu sedang berada di tengah di antara kedua budak hitam. Ia nampak menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Kasha sementara dari belakang Pyankhi melesakkan penisnya ke dalam anus sang nyonya majikan. Kasha menikmati genjotan Valeria sambil dengan santai menyedoti payudara Valeria yang menggelayut. Rambut Valeria yang masih tersanggul sudah agak kusut, butir-butir keringat membasahi tubuh dan wajahnya membuat penampilannya makin menggairahkan.

Claudia meletakkan tangan di mulutnya dan menahan nafas seakan tidak percaya pada pengelihatannya sendiri. Ia tak tahu harus marah, sedih, tegang, atau malah terangsang, semua perasaan itu bercampur menjadi satu sehingga membuatnya hanya bisa melongo mengintip sang ibunda yang sedang berselingkuh dengan budaknya.

Akhirnya gadis itu menyudahi pengintipannya dan berlari ke kamar, disana ia menangis sambil tengkurap di atas ranjang. Sebagai anggota kelas elite masyarakat Roma saat itu, ia memang sudah sering mendengar kabar mengenai kegilaan hidup kelasnya baik di kalangan keluarga kaisar maupun kalangan senat dan bangsawan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa cucu Kaisar Tiberius, Gaius Germanicus (yang kelak menjadi Kaisar Caligula) memiliki hubungan incest dengan kakak perempuannya, sudah merupakan hal yang lumrah sebagian istri anggota senat mempunyai hubungan gelap dengan pria-pria muda, dan bukan hal baru lagi para senat dan bangsawan menyukai pesta-pesta pribadi yang biasa berujung pada pesta orgy. Namun yang diketahuinya selama ini keluarganya termasuk baik-baik saja, ayahnya selalu setia pada ibunya walaupun konon kabarnya ketika muda memiliki banyak kekasih. Demikian pula ibunya selama ini ia anggap sebagai wanita yang penyayang dan tulus, tipe wanita yang lebih menyukai pekerjaan rumahan dan tidak pernah terlibat hura-hura apalagi pesta orgy seperti yang lainnya, ternyata ibunya tidak beda dengan mereka dan ia berselingkuh dari ayahnya dengan golongan budak pula.

Sikap Claudia terhadap sang ibunda berubah jadi dingin beberapa hari ini. Ketika Valeria mengajak bicara ia hanya menjawab seadanya saja dengan datar. Ia memilih lebih sering keluar rumah, seperti pergi ke pinggiran kota yang jauh dari hiruk-pikuk Roma atau bermain dadu bersama teman-temannya (permainan dadu merupakan salah satu hiburan pada masa itu). Pernah ia menyampaikan keluh kesahnya sambil berdoa di depan patung Dewi Juno (istri Dewa Jupiter), dewi pelindung para istri yang juga merupakan simbol istri yang diselingkuhi.

Tentu saja Valeria merasa sedih melihat perubahan sikap putri tunggalnya itu, apalagi ia tidak tahu alasan sebenarnya. Ia sudah merasa kesepian selama setengah tahun lebih ini. Apa sebenarnya yang merubah sifat setia Valeria? Dalam sebuah jamuan ia mendengar cerita seorang teman sesama istri komandan pasukan militer Romawi bercerita mengenai kehidupan seksnya yang wah. Selain pernah bercinta dengan pria muda yang tampan ia juga bercerita pernah bercinta dengan budaknya, itu semua hanya untuk memenuhi nafsu seksnya yang menggebu-gebu selama suaminya tidak ada dan tidak dengan cinta. Semua tertegun mendengarnya termasuk Valeria. Sejak saat itu, setiap kali melihat pria, terutama pria perkasa seperti budak, tentara, atau gladiator, ia selalu membayangakan dan bertanya dalam hati, apakah mereka begitu perkasa dan dapat membuatnya orgasme berkali-kali ? Mulanya ia selalu berusaha menepis fantasi liar itu dengan menyibukkan diri merajut, menonton teater, balap kuda, dan melakukan pekerjaan rumah lainya, namun syahwatnya yang telah dahaga selama berbulan-bulan terus menggelitiknya walau ia sering berdoa pada Dewi Juno agar tetap menjaganya dari perselingkuhan.

Namun akhirnya hubungan terlarang itu terjadi juga, Valeria makin terpengaruh kata-kata sang teman bahwa seks dan cinta itu jangan disamakan. Jantungnya berdegup kencang ketika pertama kali menyuruh kedua budaknya merangsangnya dengan menggerayangi tubuhnya dan melakukan oral seks. Birahi yang menuntut pemuasan itu terus mendorongnya berbuat lebih jauh hingga makin keterusan dari hari ke hari. Bahkan Valeria tidak malu-malu lagi memanggil kedua budak itu ke kamarnya untuk memuaskan nafsunya. Dalam urusan seks, ia makin tak memikirkan yang namanya harga diri atau martabatnya. Kedua budak itu memang terbukti mampu membuatnya menikmati seks sepenuhnya, apalagi sebelumnya ia belum pernah melakukannya secara threesome seperti ini. Bagaimanpun, dari luar ia tetap nampak seperti wanita terhormat, istri seorang jenderal dan ibu yang baik bagi putrinya.

###

Seminggu setelah mendapati ibundanya berselingkuh dengan dua budak Nubianya, ia mendapat kesempatan untuk menginterogasi mereka. Saat itu mamanya sedang berada di luar kota memantau keadaan rumah dan tanah pertanian keluarga mereka karena saat itu sedang musim panen anggur. Dipanggilnya Kasha dan Pyankhi menghadapnya di ruang tamu. Keduanya menghadap menemui nona majikan mereka yang telah menunggu di atas sebuah bangku berukir, tampak anggun sekali ia hari itu dengan gaun panjang warna ungu, warna yang menandakan kelas elit masyarakat Romawi karena bahan kain dengan warna itu adalah yang paling mahal. Claudia menyuruh dua budak wanita yang mendampinginya pergi dan siapapun tidak diijinkan masuk tanpa perintah darinya. Mata biru Claudia menatap tajam pada kedua budak hitam itu.
“Berlutut !” perintahnya dengan setengah membentak pada keduanya.
Keduanya dengan raut wajah bingung dan takut menjatuhkan lutut ke atas lantai berlapis marmer itu. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres dilihat dari tatapan mata dan gaya bicara gadis itu.
“Lancang sekali kalian berani main gila dengan mamaku, bagaimana bisa terjadi ?” tanya Claudia dengan ketus.
“A-a…apa maksud Nona ? kami, kami tidak mengerti ?” Kasha mencoba berkelit dengan gugup.
“Budak hina ! masih berani bohong !” Claudia marah dan melemparkan bantal di dekatnya yang mengenai kepala Kasha.
Mereka makin membungkukan badan tak berani menatap wajah nona majikannya karena memang bersalah.

Claudia terus mendesak mereka untuk membeberkan segalanya dengan marah sehingga mereka pun akhirnya mengakuinya.
“Kami, kami diperintah oleh nyonya, kami juga tidak berani melawan !” ujar Pyankhi.
“Benar…itu benar, nyonyalah yang meminta kami melakukan itu, kami cuma budak, apa yang bisa kami perbuat selain menurut ?” timpal Kasha.
“Bohong ! kalian bohong ! mama itu wanita terhormat, mama gak mungkin seperti itu !” sahut Claudia setengah menjerit, hatinya sangat terpukul menerima kenyataan itu.
“Ampun nona, memang begitu kenyataannya, coba pikirkan, mana mungkin kami berani selancang itu kalau bukan nyonya yang memulai !” jawab Kasha lagi sambil menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh lantai.
“Kami tidak berani menolak, kami takut dihukum, mohon pengertian Nona, ini bukan salah kami !” Pyankhi juga terus mengiba dan menundukkan kepala.
“Sudah berapa lama kejadian ini berlangsung ?” tanya Claudia lagi.
“Sebulan…iya kira-kira sebulan, nyonya sering menyuruh kami melayaninya kalau sedang kesepian” jawab Pyankhi terbata-bata.
“Iya, Nyonya sepertinya kesepian karena tuan lama belum pulang, sepertinya itu sebabnya dia minta kami berbuat begitu !” timpal Kasha.
“Cukup…cukup saya bilang ! dasar budak hina !” bentak Claudia dengan nada bergetar, tangannya terkepal keras menahan marah dan sedih, “kalian kira saya akan diam saja untuk semua ini hah ? kalian akan tau apa hukumannya ?”

“Ampun Nona, jangan hukum kami, ini bukan salah kami !” mereka mengiba dan membenturkan kepalanya ke lantai berlapis granit itu dengan penuh ketakutan.
“Baik, aku tidak akan membunuh kalian” kata Claudia pelan yang membuat mereka sedikit tenang, “tapi aku akan membuat kalian tidak bisa melakukan itu lagi selamanya !” lanjutnya dengan nada tinggi.
“Ooohh…jangan Nona, ampuni kami, kami tidak bersalah !” sekali lagi mereka mengiba-iba sambil merangkak ke depan bermaksud menyembah dibawah kaki Claudia.
Ia bangkit berdiri dan berjalan ke depan hendak memanggil prajurit untuk mengebiri kedua budak itu. Dengan wajah sinis ia mengacuhkan permohonan belas kasih keduanya. Ia melangkahkan kakinya hingga memunggungi keduanya.
“Penga…mmmhh !!” sebelum sempat ia berteriak memanggil prajurit yang berjaga agak jauh di luar sana sebuah tangan kokoh sudah membekap mulutnya dari belakang.
Claudia kaget sekali dengan sergapan mendadak itu, ia meronta sekuat-kuatnya berusaha melepaskan diri. Sia-sia, tenaga seorang gadis sepertinya bukanlah tandingan tenaga budak yang terbiasa melakukan kerja kasar. Pyankhi maju ke depan dan menyeringai mengerikan. Claudia yang matanya mulai berkaca-kaca menggeleng kepala seolah berkata, “jangan…jangan mendekat, lepaskan aku !”
“Maaf Nona, anda tidak memberi kami pilihan sehingga kami terpaksa melakukan ini !” katanya sambil meraih bahu gadis itu.

‘Bret !” dengan satu sentakkan kuat robeklah gaun itu pada sisi kanannya sehingga payudara kanannya terekspos seketika. Mata kedua budak itu seperti mau copot melihat keindahan payudara nona majikannya yang montok, kencang dan berputing kemerahan itu. Sementara air mata Claudia meleleh dari pelupuk matanya membasahi pipinya, ia tidak menyangka mereka berani melakukan hal ini padanya. Pyankhi memakai robekan baju Claudia untuk mengikat mulutnya, dengan demikian Kasha melepaskan bekapannya terhadap mulut Claudia dan dapat lebih erat menelikung lengannya sehingga membuat Claudia meringis kesakitan dan menjerit, namun jeritan itu teredam oleh sobekan baju yang mengikat mulutnya.
“Kami tahu hukumannya walau tidak mati tapi dikebiri yang lebih kejam dari kematian itu sendiri, maka kami lebih memilih dapat mencicipi tubuh Nona dulu sebelum dihukum, toh kalaupun harus mati kami tidak akan menyesal karena kami sudah tidak punya keluarga lagi” kata Kasha dekat telinganya.
Nyali Claudia kian ciut melihat tatapan penuh nafsu mereka yang akan segera memperkosanya. Rontaannya makin lemah apalagi semakin meronta justru semakin sakit akibat tangannya ditelikung oleh Kasha dari belakangnya. Pyankhi yang didepannya mulai menciumi pipi, leher dan telinganya membuatnya bergidik. Ia juga merasa roknya diangkat sehingga angin menerpa pahanya yang mulus, sebuah tangan kasar lalu membelai paha itu dari belakang. Belaian itu mau tidak mau membuat darahnya berdesir.

“Hhhmm…bener-bener toked yang montok !” kata Pyankhi meremas payudara kanan Claudia yang tersingkap.
Sementara itu tangan Kasha meraba makin dalam hingga menyentuh vagina Claudia yang masih tertutup celana dalamnya. Ia mendesah tertahan saat jari-jari tangan yang besar itu menggosok belahan kemaluannya dari luar. Pyankhi juga kini memeluk tubuhnya sambil tangannya terus menggerayangi payudaranya. Kedua budak itu telah mendekapnya dari depan dan belakang sehingga membuatnya merasa sesak dan dapat merasakan bau badan mereka yang maskulin. Diperlakukan demikian, perlahan Claudia mulai lemas, rasa nikmat pada vaginanya yang digesek-gesek dan payudaranya yang diremasi membuatnya tak mampu berontak lagi. Ketika tangan Kasha menyusup ke dalam celana dalamnya, rasa nikmat itu makin membuatnya tak berdaya, tubuhnya bergetar menerima rangsangan-rangsangan itu. Meskipun kini Kasha telah melepaskan tangannya yang tadi ditelikung, Claudia tidak berontak seperti tadi lagi, ia hanya mendorong tanganya ke dada bidang Pyankhi yang mendekapnya dari depan dengan setengah hati. Melihat Claudia kian takluk, Pyankhi makin berani, ia menarik lepas simpul pada tali pinggangnya lalu menurunkan bagian gaun yang masih menggantung di bahu kirinya sehingga gaun itu melorot jatuh. Pakaian yang masih tersisa di tubuh gadis itu kini tinggal celana dalamnya saja, itupun sudah setengah melorot. Mata kedua budak itu melolot memandangi tubuh polos nona majikan mereka, sungguh putih dan mulus bak pualam, sepasang payudaranya yang tegak begitu kenyal dan lembut seperti kulit bayi. Valeria memang mewariskan kecantikannya itu pada putri semata wayangnya ini.

Sentuhan-sentuhan erotis mereka mau tak mau membuat darah Claudia bergolak. Ia merasakan seperti ada getaran-getaran listrik ketika Pyankhi membungkuk sambil menyedoti payudaranya, terkadang gigi budak hitam itu menggigiti kecil putingnya sehingga meningkatkan rangsangannya.
“Mmmm…mmpphhh !” terdengar erangan Claudia yang teredam sobekan pakaian yang mengikat mulutnya.
Sementara di belakangnya, Kasha sedang menciumi leher dan pipinya, tangannya yang kekar itu mempermainkan payudara yang satunya dan tangan lainnya mengobok-obok celana dalamnya. Kasha merasakan vagina majikannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu sudah mulai basah akibat permainan jarinya. Mereka kemudian menyeret tubuh Claudia yang sudah pasrah dan lemas karena terangsang itu ke dipan terdekat, tempat biasa tamu membaringkan diri ketika sedang diadakan perjamuan. Kasha terlebih dulu naik ke dipan berlapis bantalan empuk itu lalu menaikkan tubuh Claudia ke atasnya. Pyankhi membuka pakaiannya yang terbuat dari kain kasar. Ketika terakhir ia membuka cawatnya, mata Claudia terbelakak melihat penis hitam yang sudah ereksi penuh itu. Badan budak hitam itu begitu kekar dan berotot seperti patung-patung Romawi yang menghiasi beberapa sudut ruangan itu, tapi yang lebih membuatnya terhenyak adalah penisnya yang kali ini dilihatnya dengan lebih jelas, ukurannya begitu besar dengan urat-uratnya yang menonjol seperti akar pohon. Mengerikan tapi juga membakar libidonya, pantas saja mamanya mendesah demikian nikmat dibuatnya.