Hari itu Ray bangun kesiangan. Tadi pagi weker antiknya sudah bunyi sih, hanya saja seperti biasanya telinga Ray kalau lagi capek langsung mengadakan mogok kerja. Untungnya ada Jay, teman Ray yang sama-sama gokilnya, yang menggedor pintu dengan kekuatan maksimal, sekedar mengingatkan kalau kuliah sudah berakhir.
“Gila lo, masa kuliah udah kelar elo baru bangunin gue,” ucap Ray dengan nada digusar-gusarkan.
Jay langsung menyalakan rokoknya dan tertawa, “Memangnya kalo gue bangunin elo tadi pagi, elo bakalan kuliah?”
“Enggak, sih,” sahut Ray dan mengangkat tubuhnya, lalu mengambil sebatang Marlboro dari atas mesin tik. Sementara Jay sudah menemukan posisi yang enak di atas kasur yang berantakan.
“Sudah, siap-siap sana. Jangan sampe kita terlambat lagi,” ucap Jay dan membuat Ray melongo keheranan, “Loh, memangnya ada acara apa?”
“Aduh, kok elo lupa sih. Kita kan ada tugas siang ini. Tuh ama cewek cakep yang kemarin nongol di kantor.” Ray langsung merasakan bulu tengkuknya meremang. Bukannya takut sih, tapi kebelet pipis.

Alhasil, siang itu Ray dan Jay sudah panas-panasan mencari alamat rumah Zara, gadis cantik yang kemarin –entah siapa yang bawa– nongol di kantor mereka. Pak Herman kemarin sore sudah menelepon Ray sambil bilang, “Pokoknya saya mau kamu dapet ceritanya. Kalo tidak, gua sumpahin elo kagak dapet cewek lagi!” Jadi langsung saja Ray “siap grak” gara-gara disumpahin. Tapi namanya Ray, kalo sudah nenggak tequila lima shots langsung lupa, jangankan tugas, nama presiden RI yang cuman enam huruf aja dia bisa lupa.

Sebenarnya nongolnya Zara kemarin di kantornya bukan lain karena salah alamat, sebenarnya mau ke tingkat paling atas, tapi malah salah tingkat gara-gara ada anak yang kebanyakan nonton Crayon Shinchan mencet-mencet panel lift. Lalu kenapa Ray harus susah-susah mencari alamat Zara? Ternyata, usut punya usut, si Zara itu adalah mantan simpanan Pak Herman, yang setelah dihamili langsung ditinggal pergi? Bukan kok, tapi karena Pak Herman pernah melihat Zara bersama salah seorang pejabat kondang kotamadya Surabaya di salah satu klab malam.

Ternyata mencari alamatnya tidak susah. Sebab ada salah seorang teman Ray yang tahu di daerah sekitar mana Zara tinggal, walau tanpa alamat, dari dia pula lah Pak Herman mengetahui nama gadis itu. Jay yang heroik langsung saja bertanya ke sana ke mari pada warung setempat, dimana nyari cewek yang putih, tinggi, berambut sepunggung, cakep, montok, berhidung mancung dan bergigi gingsul. Pokoknya ciri-ciri lengkap deh.
“Wah, di lokalisasi dolly banyak, Mas,” sahut salah seorang tukang becak. Ray langsung sewot, tapi Jay malah bertanya-tanya.
“Apa bener, Mas, ada yang segitunya di dolly? Berapa’an, Mas?”

Setelah dua botol Teh Sosro kemudian, Ray dan Jay sampai di depan sebuah rumah gedongan bercat oranye. Kontan saja keduanya langsung menyusun strategi bagaimana bisa berkenalan dengan yang dicari.
“Elo masuk aja, Jay. Tampang elo kan mirip tukang listrik.”
“Sialan, lo,” Jay langsung pasang muka sangar, “Gimana kalo kita pinjam rombong bakso oom-oom di pojokan itu.”
Ray langsung memandang ke sudut jalan tempat oom tukang bakso berdiri. Melihat oom yang berpakaian loreng merah putih kayak orang Madura itu Ray langsung ciut, “Nenek elo. Carok baru tau lo.” Jay terkekeh.
“Terus gimana dong?”
Lagi mereka kebingungan, mendadak terdengar suara klakson di belakang mereka. Ray yang sedikit latah langsung menirukan bunyi klakson, sementara Jay ngumpet di balik tong sampah.

Di dalam mobil terlihat seorang gadis cantik yang menutupi mulutnya menahan geli melihat tingkah kedua cowok gokil itu. Sementara seorang bapak setengah baya berwajah sangar di belakang kemudi membuka pintu dan menyentak-nyentak, “Heh, jangan ngerumpi di depan rumah orang dong. Sana di warung kopi atau di wartel kek. Ngga tau orang mau masuk?” Jay langsung ciut disentak seperti itu, sementara Ray justru lebih menyibukkan diri dengan memandang gadis di dalam mobil.

“Heh, heh! Mau ngapain kamu!” si Bapak bertampang sangar, yang belakangan ketahuan kalo hanya sopir, berteriak saat Ray mengetuk jendela mobil. Tapi si Bapak bertampang sangar langsung terdiam saat gadis di dalam mobil malah membuka jendelanya dan tersenyum pada Ray.
“Kamu Zara?” tanya Ray tanpa malu-malu. Di sebelahnya, Jay sedang sibuk berkutat dengan si Sopir, setengah mirip pertandingan Smack Down. Zara, gadis cantik dalam mobil tersenyum.
“Ya. Kamu siapa?” tanya Zara setelah melihat tatapan ramah yang keluar dari mata pemuda di depannya. Ray tersenyum dan mengeluarkan selembar foto gadis telanjang yang langsung dimasukkannya kembali dengan wajah merah.
“Maaf, maaf, salah ambil.” Zara tertawa kecil, sebelum meraih kartu nama yang disodorkan Ray kemudian. “Hmm,” gumam gadis itu menimbang-nimbang. Sementara si Bapak sopir sudah menindih tubuh Jay. Seorang tukang becak yang kebetulan penggemar Edwin-Jody langsung menghitung, “Tu, wa, ga. Yee!! Smaacckk Doowwnn!!” Persis seperti di TV.

“Gile, Ray. Persis kayak rumah di sinetron,” bisik Jay pada Ray yang masih sibuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan. Beberapa saat kemudian Zara sudah muncul di ruang tamu dengan mengenakan pakaian kaus putih oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat. Ray dan Jay langsung gemetaran. “Loh, kok belum diminum?” tanya Zara melihat gelas berisi sirup yang belum diminum. “Iya, tadi baru minum Sosro,” sahut Ray dengan nada serius. Zara kontan tertawa. Sementara Jay masih sibuk menelan ludahnya.

“Jadi kamu tinggal sendiri di sini?” tanya Ray pada gadis di hadapannya.
“Iya. Papa dan mama di Belanda. Jadi Zara sendirian, cuman sama Mbok Piyah dan Pak Udin. Oh, ya. Temen kamu dapat salam dari Pak Udin, katanya masih perlu banyak latihan.” Jay langsung meruncingkan bibirnya. Beberapa menit kemudian, mereka bertiga langsung akrab. Ternyata Zara merupakan seorang gadis yang asyik diajak ngobrol. Sehingga Ray dan Jay langsung terangsang. Eh, langsung suka.

“Saya tahu kok kalian ke sini tujuannya apa. Pasti deh ada yang pernah melihat saya di salah satu klab malam di Surabaya,” ucap Zara kemudian, yang membuat Ray dan Jay tersipu malu.
“Err,” Ray kehabisan kata, “Maksud kami..ini..”
“Yah, begitulah. Lalu.. ngg..” Jay ikutan kehabisan kata.
Zara tertawa geli melihat kedua cowok di hadapannya, “Begini saja. Saya juga kurang sreg kalau ngomong di rumah. Nanti malam saya kosong, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kan bisa cerita-cerita sambil jalan-jalan.” Ray langsung bersorak dalam hati, sementara Jay merasa air liur mulai memenuhi mulutnya.
Ray dan Jay lalu berpamitan pulang. Sebelum menghidupkan mesin sepeda motor, Jay sempat bersalaman dengan Pak Udin si sopir sangar.
“Tolong, Pak. Ajarin saya wrestling. Jadikan saya murid Bapak.”
Si Sopir langsung jual mahal, “Ah, itu jurus keturunan. Porbiden untuk orang asing.” Jay lalu putus asa dan memutuskan dalam hati untuk pulang kampung ke Irian berguru pada kakeknya yang konon juara wrestling setempat.

Sorenya, Ray masih menunggu mobilnya di bengkel saat handphone-nya berbunyi. “Halo?” Beberapa pemuda kampung memandang dengan beringas haus benda mahal, tapi begitu melihat tampang Tejo, pemilik bengkel sahabat Ray yang muka dan bodinya mirip badak, mereka langsung senyum-senyum dan menoleh ke arah lain.

“Maaf, bisa bicara dengan Tommy?” Ray langsung sebal.
“Maaf, Mbak. Tommy udah ke luar negeri. Entar saya juga nyusul kok, Mbak.” Yang menelepon langsung kaget. Si Tommy kan bencong tukang salon, kok suaranya jadi sangar begitu. Ray langsung menekan tombol off. Beberapa saat kemudian handphone-nya kembali berbunyi, Ray jadi sungkan sama orang kampung. “Di dalam saja, Ray,” kata Tejo. Ray langsung melangkah masuk ke belakang bengkel, “Halo?”
“Ray,” terdengar suara Jay dari seberang, “For god’s sake, Ray.”
“Kenapa Jay? Elo abis diperkosa?” tanya Ray panik.
“Nenek elo,” sahut Jay sewot, “Kayaknya gua nggak bisa deh ntar malem. Gimana kalo diundur besok saja?” Ray langsung punya ide yang lebih menarik. “Emang kenapa, Jay? Celana dalam elo abis? Dibalik aja yang udah item.”
“Serius nih,” ucap Jay dengan nada gusar, “Nyokap gue sakit.”
“Yeh, sakit aja ditungguin.”
“Ya taulah, Ray. Kan cuman ada gue semata wayang di sini.”
“Tapi ini nggak bisa diundur, Jay. Kita kan udah janjian.”
“Itulah. Masa elo mau enak sendiri.”Ray langsung cengengesan, “Sori, Jay. Tapi entar gua salamin buat Pak Udin deh.” Jay mencak-mencak di seberang, “Tega lo, Ray.”
Tapi Ray cuek aja. Enakan sendirian, siapa tahu..

“Masuk saja, Mas. Ngga usah malu-malu,” ucap Pak Udin pada Ray. Yang dituju cengengesan sambil menganggukkan kepalanya. Ray melirik ke arah jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Cukup malam untuk bikin janji. Tapi ini justru akan jadi lebih mengasyikkan, pikir Ray dalam hati. Lalu ia langsung menuju pintu ruang tamu dan memencet bel.

Beberapa saat kemudian Mbok Piyah sudah membukakan pintu. Ray sedikit kecewa, karena ini berarti dia harus nunggu lebih lama lagi. Padahal hatinya sudah tidak sabar untuk segera.. makan gratis. Jangan mikirin yang aneh-aneh. “Tunggu aja, Mas. Non masih ganti baju.” Ray tanpa sungkan-sungkan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa empuk yang penuh ukiran di sebelahnya.

“Hai, Ray,” sebuah suara mengejutkannya. Ray terperangah melihat bidadari yang keluar dari balik ruang tamu. Zara terlihat manis dengan sweater merah menyala dan celana jeans biru yang dikenakannya. Wajahnya tanpa polesan, tapi justeru terlihat lebih alami dan lebih menggoda. Tanpa terasa Ray menelan air liurnya sendiri. Alamak, kapan lagi bisa lihat bidadari.”Jangan bengong,” seru Zara sambil tertawa kecil. Ray merasa mukaya memerah.
“Non, sudah bawa kunci pintu depan?” Mbok Piyah bertanya.
“Sudah,” sahut Zara pendek, “Dadah, Mbok.” Lalu menarik lengan Ray yang masih terbengong-bengong.

“Mana Jay?” tanya Zara di halaman.
Ray langsung mencari alasan mematikan, “Jay katanya mau pulang kampung, berguru supaya bisa ngalahi sopir elo.” Zara ngakak sampai perutnya sakit.
“Kita mau kemana nih, Ray?” tanya Zara setelah mobil yang mereka naiki melaju di jalanan. Ray tersenyum sok gagah, lagipula ia tadi siang sudah mengambil lima ratus ribu terakhirnya di ATM, yang khusus dijatahkan buat cewek-cewek cantik.
“Mau ke cafe?” tanya Ray, positif Zara akan mengiyakan. Eh, ternyata Zara justeru menggelengkan kepalanya, “Malas, ah.” Ray jadi heran sendiri.
“Eh, Ray. Dari penampilan elo yang asal tadi siang, kayaknya elo anak jalanan juga dech,” seloroh Zara memecah keheranan Ray.
“Hehehe,” tawa Ray sambil garuk-garuk rambut gondrongnya yang tidak gatal, “Akhirnya ketahuan juga.” Zara tersenyum.
“Ray, gimana kalo elo bawa gue ke salah satu warung yang asyik di Surabaya.”
“Hah? Warung?” Ray langsung gelagapan. Kok ngajak ke warung?
“Warung gimana maksud elo?”
“Tau lah. Kan kamu yang lebih paham.” Ray kontan tertawa ngakak dan merasakan keakraban di antara mereka. Ternyata Zara tak seperti yang diduganya. Gadis ini beda.

“Nah,” ucap Ray setelah mereka mendudukan diri di bangku kayu di sebuah warung sudut jalan.
“Warung ini termasuk yang paling populer di Surabaya. Banyak loh artis yang demen nongkrong di sini. Sesudah dan sebelum terkenal. Tul kan, Pak?” Bapak penjaga warung terkekeh dan mengangguk mengiyakan.
“Masa sih?” tanya Zara dengan rasa ingin tahu, “Apa yang menarik dari warung ini?” Ray langsung meraih sebuah nasi bungkus dan menyodorkannya pada Zara, “Nih, cobain deh. Pasti enak.” Zara memandang dengan alis berkerenyit, mungkin dia tidak pernah makan gituan sebelumnya.

“Ayo. Kaya begini loh,” Ray langsung membuka nasi bungkusnya dan menyendok sesuap ke dalam mulutnya. Zara memandang sejenak lalu tertawa geli, “Oke deh. Begini kan?” Zara membuka nasi bungkusnya dan menirukan gaya Ray, mengisi mulutnya penuh-penuh. Ray dan Bapak penjaga warung kontan tertawa-tawa. Pokoknya hangat deh. Beberapa cowok yang duduk lesehan di sebelah warung juga ikutan tertawa melihat gaya Zara makan. Maklum, namanya juga satu-satunya makhluk cantik (jangan dihitung isteri yang punya warung, dong).

“Jadi elo mau cerita apaan dong, Ray?” tanya Zara beberapa menit setelah mereka meninggalkan warung Cak T**** begitu anak-anak gaul menyebut nama warung itu.
Ray termenung, mencoba mencari kata-kata supaya tidak terlalu menjurus. “Eh, coba dech elo ceritain tentang diri elo.”
Mendadak raut wajah Zara berubah kelam, “Masa lalu gue kagak indah.”
“Indah? Emangnya taman bunga?” Ray mencoba menjernihkan suasana.
Zara tertawa dan meninju lengan Ray yang langsung pura-pura mengaduh.
“Serius nih,” ucap Zara kemudian, “Nggak ada yang menarik dari masa lalu gua.”
Ray tersenyum, “Ah itu an masa lalu. Kenapa harus dipikirin?”
“Loh, katanya elo pingin tahu?”
“Ye, kalo elo kagak niat cerita ya sudah. Ngapain gua maksa.”
“Lalu kerjaan kamu?” tanya Zara ingin tahu.
Ray menoleh dan memamerkan senyumnya, “Kan bisa ngutang dulu.”
Gadis di sebelahnya tertawa, “Iya deh, gua cerita.”

Memang masa lalu Zara tak ada yang istimewa, hanya anak yang terlahir dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis. Kedua orang tua kandungnya berpisah saat ia masih berusia sepuluh tahun, lalu ibunya menikah lagi dengan seorang pria asing dari negeri Belanda dan menetap di sana, meninggalkan Zara di Surabaya sendiri. Yah, begitulah. Sedikit klise, menurut Ray.

“Begitu. Membosankan, kan?” tanya Zara sambil melirik ke arah Ray, yang lalu mengeluarkan suara mendengkur. Zara tertawa, “Eh, Ray?”
“Ya?” sahut Ray, “Ada apa?”
“Elo anaknya lucu juga, ya.”
Ray langsung merasa jengah. “Ngga juga, ini karena obatnya belum diminum. Kalo udah diminum gua orang yang paling tenang di dunia kok.”
“Iya, jadi sleeping ugly.” Mereka berdua lalu tertawa terbahak-bahak.
Ray mengemudikan mobilnya mengitari jalanan Surabaya. Lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit tampak megah di tengah kota. Sejenak suasana di dalam mobil terasa hening.
“Eh, Zara,” Ray mencoba mengorek cerita.
“Aku tahu, pasti ada yang melihatku bersama seseorang celeb di salah satu klab malam, bukan? Pasti itu deh yang elo pingin gue ceritain.”
Ray langsung belingsatan ditembak kaya begitu, “Kok elo tahu?”
“Ya kan itu yang biasanya dilakukan ama wartawan-wartawan kaya elo.”
Ray langsung ngakak, “Iya deh. Kena gua sekarang.” Zara tersenyum dan menundukkan kepalanya, “Sebenarnya..”
Ini dia. Ray merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan jantungan, bukan pula ketakutan, tapi membayangkan bonus yang akan diterimanya nanti dari Pak Herman. Duit. Duit. Duit.
“Lalu..cerita saja..”

“Dia itu.. temennya almarhum papa. Kan waktu itu ada acara dengan pejabat-pejabat lainnya. Nah, berhubung tante, Zara manggilnya begitu, sedang keluar negeri bersama ibu-ibu dharma wanita. Maka dia ngajakin Zara. Lagipula Zara kan temen anak ceweknya dia yang kuliah di luar negeri. Begitu loh ceritanya.”
Ray melongo, sampe mobilnya nyaris menabrak seekor semut yang melintas cuek. Mendadak bayangan duit melayang dan berubah menjadi raut seekor kepala keledai yang bersuara, “Iiihoo.. iihoo..” Zara melirik dengan tawa tertahan.

“Yeh, tahu begitu..” desah Ray setelah sampai ke depan rumah Zara.
Gadis di depannya memandang dengan wajah sedih, “Jadi elo hanya ingin ceritanya aja, Ray?” Elo kaga mau temenan ama gua?”
Ray langsung kebingungan tidak tahu mesti bilang apa, “Eh, maksud gue..”
Zara mendadak tertawa, “Kena elo!!”
Ray langsung mengumpat kalang kabut.
“Tapi enak kok Ray, ngobrol ama elo. Lagipula warung tadi asyik juga.”
Ray kontan mesam-mesem, “Udah deh. Gua pulang dulu.”
“Err, Ray. Kamu nggak masuk dulu?”
Ray langsung kaget sambil ngucapin syukur berulang-ulang dalam hatinya. Gue baru kejatuhan bintang apaan nih, pikir cowok gokil itu dalam hati. “Ngga ah. Udah malem,” Ray pura-pura alim.
“Udah pada bobok, kok.”
Alhasil, akhirnya Ray sudah nongkrong di sofa ruang tamu Zara untuk yang ketiga kalinya hari ini. Sementara Zara berganti pakaian, Ray mencoba mikirin apa yang ngebuat dia bisa ada di rumah itu pukul satu pagi kaya begitu. “Lama, Ray?” suara Zara mengejutkan Ray yang masih memikir-mikir. Yah, lagi-lagi Ray tidak bisa berkutik melihat bidadari di depannya yang sudah memakai pakaian tipis tanpa lengan dan celana pendek seperti tadi siang. Langsung saja pikiran kotornya melayang kemana-mana, sampai Pak Udin yang masih asyik nongkrong di jamban bisa merasakan getarannya dan langsung bersiap-siap dengan jurus WCW-nya.

“Begini kan enak, dingin,” ucap Zara sambil mengibas rambut panjangnya. Ray merasa tenggorokannya kering seperti musim kemarau. Zara tertawa saat melihat Ray yang celingukan gelisah. “Nyantai aja, Ray.. gua kaga nggigit kok.”
“Eh,” Ray langsung kumat gatelnya, “Nggigit juga kaga pa-pa.”
“Hihihi,” tawa Zara, “Beneran nih nggak pa-pa?”
“Suer deh,” sahut Ray pendek. Maksudnya sih cuman bergurau, tapi malah mendadak Zara mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Ray. Ngecup, lalu nggigit. Pelan, sedikit sakit, tapi cukup membuat Ray gelagapan.
“Hkk.. eh.. eh..” Zara melepaskan pagutannya lalu tertawa kecil. Ray bisa merasakan bau nafas cewek itu di hidungnya. Otomatis, senjatanya mulai “in charge”. Tapi sesuatu mengusik benak Ray.
“Jangan, ah,” ucap Ray pendek.
Zara tersenyum, “Katanya ngga pa-pa.”
“Hehehe,” Ray terkekeh, “Gua cuman kaga mau aja.”
“Elo lucu deh,” tukas Zara lalu bersandar ke kursi dan mengangkat kedua lengannya ke belakang kepala. Ray menelan ludahnya ngeliat kulit lengan Zara yang putih mulus dan dadanya yang mengundang. Posisi cewek yang kaya gitu kan posisi cakep-cakepnya cewek. Gimana coba bisa ngga tergoda.

“Sini, Ray. Temenin gua.” Namanya juga manusia normal. Akhirnya Ray KO juga. Langsung saja tanpa banyak tanya dia nyosor Zara yang kontan cekikikan geli saat bibir Ray menelusuri kulitnya. Beberapa saat kemudian Ray sudah dengan cekatan melepas seluruh pakaian yang menutupi tubuh Zara, mencium satu demi satu buah dada Zara dengan kagum yang nggak abis-abis. Zara kontang mengerang-erang kegelian dijilati oleh Ray, “Geli bego.”
Ray ketawa aja, “Tapi enak, kan.”
“Sini, Zara bantuin,” ucap gadis itu lalu mendudukkan dirinya dan membantu Ray melepaskan baju dan celananya. Sementara Ray tidak bosan-bosan melihat tubuh telanjang Zara di sebelahnya, “Gila, man. Bagus banget.”
“Apa, Ray?” Zara mengangkat kepalanya. “Ngga pa-pa,” Ray menjawab cepat. Sekejap kemudian kedua orang itu sudah bergumul di atas sofa.
“Pelan-pelan dong, Ray. Buru-buru amat sih.” Zara mengeluh.
“Iya..iya..,” Ray langsung memiringkan tubuhnya lalu menyusupkan jemarinya ke dalam kemaluan Zara yang langsung mendesah nggak karuan. Ray yang sudah hot tidak mau nunggu lama-lama, “Gue langsung yah?” Zara tertawa kecil lalu nganggukin kepalanya, “Iya deh.”
Kontan Ray berseru, “Yuhuu!” sambil mengangkat tubuhnya ke atas tubuh Zara.
“Gila elo, mau make love masih gokil abis,” tawa Zara. Ray cuek abis, langsung saja menancapkan senjatanya ke kemaluan Zara yang emang sudah basah sejak tadi.
“Aduh, Ray. Jangan kenceng-kenceng. Aww!!”

“Elo tau kagak, Ray,” bisik Zara di dada Ray yang sudah kecapean.
“Ada apa?” tanya Ray, masih memikirkan dua hal. Satu, kok dia bisa sampai making love dengan Zara. Dua, ternyata making love di sofa itu makan energi banyak juga.
“Ray, lo dengerin kagak sih?” ucap Zara dengan nada kesal.
Ray mengangkat lengannya terus membelai rambut Zara, “Iya, gue dengerin.”
“Benernya sih, gue emang simpanannya itu oom-oom. Tapi gua dilarang ngomong sama siapa-siapa. Terus dia ngelarang gua keluar ama siapa-siapa juga. Makanya, Ray. Gua seneng banget punya temen kayak elo. Walau kita baru kenalan hari ini, tapi gua udah seneng banget, soalnya elo anaknya hangat dan menyenangkan. Oh, ya. Kalo elo mau gue ceritain, pasti dech gua ceritain. Apa aja. Elo tinggal nanya.”

Ray sejenak ngerasa ketipu. Tapi Ray berusaha tetap cuek.
“Kamu kok mau saja dijadiin simpenan dia?”
“Gue ini anak desa, Ray. Bokap nyokap gua di desa cuman petani buruh. Itu oom yang nemuin gua di desa waktu lagi ada kunjungan. Trus dia ngeboyong gua ke sini. Mau gimana lagi, Ray. Gua kan nggak bisa apa-apa. Untung-untungan deh bisa ngidupin ortu di desa. Ini rumah semua dari dia, pembantu, sopir, tapi mereka semua udah jadi temen-temennya Zara, soalnya Zara kan nggak boleh keluar ke mana-mana. Makanya, kemarin siang Zara udah minta tolong ama mereka supaya ngijinin Zara sekali aja buat keluar ama orang lain.”
Mau tidak mau Ray trenyuh mendengarkan penuturan itu.
“Yang ini beneran, nih?”
“Suer deh. Tanyain aja ama mereka kalo elo nggak percaya.”
Gue percaya kok, jawab Ray dalam hatinya. Lalu membelai lembut rambut Zara. Gadis malang, pikir Ray dalam hati.

Jay membelalakan matanya mendengar cerita Ray.
“Gile. Sungguhan tuh, Ray?”
“Yap,” sahut Ray pendek. Badannya masih ngerasa pegel-pegel.
“Trus, elo bakal muat tuh cerita di tabloid?”
Ray narik nafasnya dalam-dalam, “Kayaknya nggak deh, Jay. Kasihan Zara. Soalnya cuman satu pejabat yang kaya gitu, kalaupun pake nama samaran pasti deh ketauan. Jika kita muat ceritanya, bisa-bisa gempar deh Surabaya.”
Jay langsung panik, “Trus gimana dong ama monster itu?”
“Hehehe,” Ray ngakak, “Gue udah ada cerita buat dia.”
“Hah?” sahut Jay terheran-heran.

“..iya. Begitu, Pak. Ternyata cuman temennya almarhum babenya.”
Pak Herman langsung manggut-manggut, “O, begitu ya.”
“Iya, Pak,” sahut Ray sambil mengedipkan mata ke arah Jay yang sudah berkeringat dingin, “Iya kan Jay?” Jay langsung mengangguk.
“Trus, uang goban yang kemarin gua sanguin masih sisa kagak?”
Ray langsung cengengesan, “Buat minum teh, Pak. Sosro, loh.”
Jay bergegas ngacir sebelum kena getahnya.

Tamat