“Jenny! Teganya kamu?” teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video dibawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly,” balas Jennysaid lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkanbatang penisku hingga ke batangnya.
“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untukbergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihataksi kami berdua.
“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.
“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakakbenar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui olehsiapapun?” Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.
“Kakak keliru,” kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Nah,sekarang impas kan?” tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan diaberlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam,tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauhdan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedangmenyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangkudengan tatapan yang berlinang air mata.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya. “Ituterjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny takjuga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadikemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua diranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya. Aku hendak mulaimenjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.
“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadianpertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherlyterlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Jennydengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.
“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.
“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating danbicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalamkeadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya denganJenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini,tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”
“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Jenny dengan tajam.
“Aku mau menolaknya!” jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengansuara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jaditerangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”
“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Jenny tak percaya.Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Akugelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakanSherly barusan.
“Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jikakakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kamimenikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”
“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.
“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak inginkehilanganmu,” kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini.Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi.Sekarang aku tahu itu tidak benar.
“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padakutentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisalakukan itu bersama.”
“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.
“Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku takpernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservativetentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya.Aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuahharapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciumanyang sangat dalam sebagai jawabannya.
“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.
“Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnyaaku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”
“Menakjubkan,” kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.
“Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanyadengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Akupercaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Sherly, masihmemelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.
Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetaptelanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulaimelucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.
“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Jenny. Sherly memandangku seakanmeminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akanberakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.
“Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudahkukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasamelihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!”Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsangoleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.
Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherlymenuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjangdengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalausepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsungterhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya.Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.
“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Sherly tidak pernah berkatamesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakaroleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut denganirama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yangmemegang buah zakarku.
“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku padaJenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.
“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penisabang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudiadia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.
“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalangyang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuahtamparan lagi.
“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.
“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.
“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Jennydengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherlyberteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semuaini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadisebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.
Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlumenunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertamakali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Akusudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinyasetelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelumtangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.
“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Jenny komplain. Sherlytersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuahciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnyaselesai Jenny kembali komplain.
“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.
“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang.Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?”jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkankelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.
“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya,tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.
“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanitasebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu taksuka?” Tanya Sherly.
“Tapi aku kan adikmu!” jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.
“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanyabicara tak karuan begitu,” jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumatbibir adiknya lagi.
“Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamujuga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar.Sherly hanay mengangkat bahu.
“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai akulihat videonya Jenny dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkukkedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerangkeras Jenny mulai orgasme.
Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermakuke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat diamenjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnyadengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.
Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.
“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kataJenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorongtubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny danduduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat kemulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat danlagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.
“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penissuamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginakuJenny!” perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Akutengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangkadimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali takmengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesahkeras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalamlubang vaginanya.
“Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!” ceracau Sherly. Mereka berduaseakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit kedepan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.
“Hey!” protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengaturuntuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidahJenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherlyragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksiyang sama terhadap vagina Jenny.
Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larutterhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka salingmemuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudahmendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekalilagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apayang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadakusambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly.Sherly mengerang.
Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambiltetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padakuuntuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepalapenisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanyamasuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.
“Tunggu!” teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi padakelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapacenti lagi.
“Hentikan, ini sakit!” erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.
“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.
“Ya!” Sherly semakin mengerang keras.
“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Jenny menampar pantat Sherlylagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkankelentitnya.
Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanyasangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati iniataukah tidak.
“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.
“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Sherly. Dan jawabanitu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dialangsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.
Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarkumenghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian.Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masigsebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalaudia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.
Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakanwaktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny.Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya.Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinyalangsung.
Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinyadiantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakanlidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lamalagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vaginaJenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisitsegera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus sajamencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku didalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.
Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbahkeringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanyadengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandimenyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherlymenyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.
“Aku lapar,” Jenny said.
“Aku juga,” timpalku.
“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Sherlytersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan.Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedangmenata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begituacara makan kita selesai.
“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengarnervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dankemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Sherly pada adiknya.
“Mmm, aku belum tahu,” jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian diatersenyum lebar dan bertanya, “Yang kamu maksud itu tentang kamu danBob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbianyang juga menikmati hubungan incest?”
“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.
“Dia benar,” Sherly menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmatihubungan incest.” Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak.Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.
“Jenny, beri Bob kesempatan,” kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.
“Akan kupikirkan.”
“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berduamungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunyauntuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.
“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadimasalahmu adalah Bob,” gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknyatersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannyabergerak mengelus perutnya.
“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalahaadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimusudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku denganspermanya.”
Alis Sherly’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut.Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kamibertiga hanya mengangkat bahu.
“Itu issue untuk besok saja,” jawab Sherly.
“Kalau memang jadi,” Jenny menambahkan.
“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,”kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan akuuntuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanyaberjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihatBob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akanterlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”
“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Jennymenimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengantersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”
“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Sherly.
Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi.Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.
“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Sherly. Awalnya aku hanyamengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kamiberdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.
“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kitatidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salahsatu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Sherlytampak sedikit malu dan mengangguk setuju.
“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gayahidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,”Sherly menambahkan.
“Setuju.”
“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Sherly. Aku menyeringai.
“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”
“Hukuman?” Tanya Sherly, matanya berbinar.
“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasasakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anaktidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”
“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.
Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan danmemanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan denganbaik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawadan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinyaSherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupandua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasitersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudahmelakukan sebuah awal yang bagus.
Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saatakhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lainlagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kamimandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memilikipemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersihdan segar.
Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicaraselama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kamidiskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isterikumelebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelapdalam mimpi indah dengan saling memeluk.


THE END