Berkali kali kucoba menghubungi HP Febi, keponakanku yangkuliah di Semarang, tapi selalu dijawab si Veronica, sekretaris nasional dariTelkomsel. Akhirnya aku spekulasi untuk langsung saja ke tempat kost-nya, akumasih punya waktu 2 jam sebelum schedule pesawat ke Jakarta, rasanya kurangpantas kalau aku di Semarang tanpa menengok keponakanku yang sejak SMP ikutdenganku.
<o> </o>
Kuketuk pintu rumah bercat biru, rumah itu kelihatan sunyiseakan tak berpenghuni, memang jam 12 siang begini adalah jam bagi anak kuliahberada kampus. Lima menit kemudian pintu dibuka, ternyata Desi, teman sekamarFebi, sudah tingkat akhir dan sedang mengambil skripsi.
"Febi ada?" tanyaku begitu pintu terbuka.
"Eh.. Om Hendra.., anu Om.. anu.. Febi-nya sedang kekampus, emang dia nggak tahu kalo Om mau kesini?" sapanya dengan nadakaget.
Aku dan istriku sudah beberapa kali menengok keponakanku inisehingga sudah mengenal teman sekamarnya dan sebagian penghuni rumah kosttersebut.
"Om emang ndadak aja, pesawat Om masih 2 jam lagi, jadikupikir tak ada salahnya kalo mampir sebentar daripada bengong di airport"jawabku sambil mengangsurkan lumpia yang kubeli di pandanaran.
"Aku ingin nemenin Om ngobrol tapi maaf Om aku harussegera bersiap ke kantor, maklum aja namanya juga lagi magang, apalagisekretaris di kantor sedang cuti jadi aku harus ganti jam 1 nanti"jawabnya lagi tanpa ada usaha untuk mempersilahkan aku masuk.
"Sorry aku nggak mau merepotkanmu, tapi boleh nggak akupinjam kamar mandi, perut Om sakit nih" pintaku karena tiba tiba terasamulas.
Desi berdiam sejenak.
"Please, sebentar aja" desakku, aku tahu memangnggak enak kalau masuk tempat kost putri apalagi Cuma ada Desi sendirian dirumah itu.
"Oke tapi jangan lama lama ya, nggak enak kalau dilihatorang, apalagi aku sendirian di sini" jawabnya mempersilahkanku masuk.
"Oke, cuman sebentar kok, cuma buang hajat aja"kataku
<o> </o>
Aku tahu kamar mandi ada di belakang jadi aku harus melewatikamar Desi yang juga kamar Febi yang letaknya di ujung paling belakang dari 9kamar yang ada dirumah itu sehingga tidak terlihat dari ruang tamu. Desi takmengantarku, dia duduk di ruang tamu sambil makan lumpia oleh olehku tadi,kususuri deretan kamar kamar yang tertutup rapat, rupanya semua sedang kekampus. Kulihat kamar Febi sedikit terbuka, mungkin karena ada Desi di rumahsehingga tak perlu ditutup, ketika kudekat di depannya kudengar suara agakberisik, mungkin radio pikirku, tapi terdengar agak aneh, semacam suaradesahan, mungkin dia sedang memutar film porno dari komputernya, pikirku lagi.Ketika kulewat di depan kamar, suara itu terdengar makin jelas berupa desahandari seorang laki dan perempuan, dasar anak muda, pikirku.
<o> </o>
Tiba tiba pikiran iseng keluar, aku berbalik mendekati kamaritu, ingin melihat selera anak kuliah dalam hal film porno, dari pintu yangsedikit terbuka, kuintip ke dalam untuk mengetahui film apa yang sedangdiputar. Pemandangan ada di kamar itu jauh mengagetkan dari apa yangkubayangkan, ternyata bukan adegan film porno tapi kenyataan, kulihat dua sosoktubuh telanjang sedang bergumulan di atas ranjang, aku tak bisa mengenalidengan jelas siapa mereka, karena sudut pandang yang terbatas. Sakit perutkutiba tiba hilang, ketika si wanita berjongkok diantara kaki laki laki danmengulum kemaluannya dengan gerakan seorang yang sudah mahir, dari pantulancermin meja rias sungguh mengagetkanku, ternyata wanita itu tak lain dan takbukan adalah Febi, keponakanku yang aku sayang dan jaga selama ini, rambutnyadipotong pendek seleher membuatku agak asing pada mulanya. Sementara si lakilakinya aku tak kenal, yang jelas bukan pacarnya yang dikenalkan padaku bulanlalu. Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin marah atau malahan ingin kugamparmereka berdua, lututku terasa lemas, shock melihat apa yang terjadi dimukaku.Aku ingin menerobos masuk ke dalam, tapi segera kuurungkan ketika kudengarucapan Febi pada laki laki itu.
<o> </o>
"Ayo Mas Doni, jangan kalah sama Mas Andi apalagi situa Freddy" katanya lepas tanpa mengetahui keberadaanku.
Aku masih shock mematung ketika Febi menaiki tubuh laki lakiyang ternyata namanya Doni, dan masih tidak dapat kupercaya ketika tubuh Febiturun menelan penis Doni ke vaginanya, kembali aku sulit mempercayaipemandangan di depanku ketika Febi mulai mengocok Doni dengan liar sepertiorang yang sudah terbiasa melakukannya, desahan nikmat keluar dari mulut Febidan Doni, tak ada kecanggungan dalam gerakan mereka. Tangan Doni menggerayangidi sekitar dada dan bukit keponakanku, meremas dan memainkannya. Aku masihmematung ketika mereka berganti posisi, tubuh Febi ditindih Doni yangmengocoknya dari atas sambil berciuman, tubuh mereka menyatu saling berpelukan,kaki Febi menjepit pinggang di atasnya, desahan demi desahan saling bersahutanseakan berlomba melepas birahi.
<o> </o>
Tiba tiba kudengar suara sandal yang diseret dan langkahmendekat, aku tersadar, dengan agak gugup aku menuju kamar mandi, bukannyamenghentikan mereka. Kubasuh mukaku dengan air dingin, menenangkan diri seakaningin terbangun dan mendapati bahwa itu adalah mimpi, tapi ini bukan mimpi tapikenyataan. Cukup lama aku di kamar mandi menenangkan diri sambil memikirkanlangkah selanjutnya, tapi pikiranku sungguh buntu, tidak seperti biasanya ideselalu lancar mengalir dari kepalaku, kali ini benar benar mampet. Ketika akukembali melewati kamar itu menuju ruang tamu, kudengar tawa cekikikan daridalam.
"Nggak apa Mas, ntar kan bisa lagi dengan variasi yanglain" sayup sayup kudengar suara manja keponakanku dari kamar, tapi takkuhiraukan, aku sudah tak mampu lagi berpikir jernih dalam hal ini.
"Kok lama Om, mulas ya" Tanya Desi begitumelihatku dengan wajah lusuh, sambil menikmati lumpia entah yang keberapa.
Aku diam saja, duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu bohong bilang Febi nggak ada, ternyata dia dikamar dengan pacarnya" kataku pelan datar tanpa ekspresi.
<o> </o>
Dia menghentikan kunyahan lumpianya, diam tak menjawab,kupandangi wajahnya yang hitam manis, dia menunduk menghindari pandanganku,diletakkannya lumpia yang belum habis di meja tamu.
"Jadi Om memergoki mereka?" katanya pelan
"Ya, dan Om bahkan melihat apa yang mereka perbuat dikamar itu"
"Lalu Om marahi mereka? kok nggak dengar adaribut?" Desi mulai penuh selidik
"Entahlah, Om biarkan saja mereka melakukannya"aku seperti seorang linglung yang dicecar pertanyaan sulit
"Ha?, Om biarkan mereka menyelesaikannya? Ommenontonnya?" cecarnya
<o> </o>
Aku makin diam, seperti seorang terdakwa yang terpojok, Desipindah duduk di sebelahku.
"Om menikmatinya ya" bisiknya, tatapan matanyatajam menembus batinku.
"Entahlah"
"Tapi Om suka melihatnya kan?" desaknya pelanditelingaku, kurasakan hembusan napasnya mengenai telingaku.
Aku mengangguk pelan tanpa jawab.
"Om"
Aku menoleh, wajah kami berhadapan, hanya beberapamillimeter hidung kami terpisah, kurasakan napasnya menerpa wajahku. Entahsiapa yang mulai atau mungkin aku telah terpengaruh kejadian barusan, akhirnyakami berciuman. Kejantananku kembali menegang merasakan sentuhan bibir Desi,kulumat dengan penuh gairah dan dibalasnya tak kalah gairah pula.
<o> </o>
Desi meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya, kurasakanbukitnya yang lembut tertutup bra, tidak terlalu besar tapi kenyal dan padat.Kubalas meletakkan tangannya di selangkanganku yang sudah mengeras. Desimenghentikan ciumannya ketika tangannya merasakan kekakuan di selangkanganku,sejenak memandangku lalu tersenyum dan kembali kami berciuman di ruang tamu.
Tiba tiba aku tersadar, ini ruangan terbuka dan anak lainbisa muncul setiap saat, tentu ini tak baik bagi semua.
"Kita tak bisa melakukan disini" bisikku
"Tapi juga tak mungkin melakukan di kamarku"jawabnya berbisik
"Kita keluar saja kalau kamu nggak keberatan"usulku
"Oke aku panggil taxi dulu" jawab Desi serayamenghubungi taxi via telepon
<o> </o>
Sambil menunggu taxi datang kami bersikap sewajarnya, Febimasih juga belum nongol, mungkin dia melanjutkan dengan pacarnya untuk babakberikutnya. Ternyata Desi membohongiku dengan mengatakan ke kantor supaya akusegera pergi, tapi kini dia bersedia menemaniku selama menghabiskan waktu.Dengan beberapa pertimbangan maka kubatalkan penerbanganku dan kutunda besok,aku ingin bersama Desi dulu. Kutawari Desi untuk memilih hotel yang dia mau,ternyata dia mau di hotel berbintang di daerah Simpang Lima. Akhirnya Taxi yangkami tunggu datang juga, Desi kembali ke kamar berganti pakaian dan membawabeberapa barang keperluan menginap, sekaligus pesan sama Febi kalau dia tidakpulang malam ini. Dia makin cantik dan sexy mengenakan kaos ketat dengan celanajeans selutut.
<o> </o>
Kami mendapatkan kamar yang menghadap ke arah simpang lima,Desi langsung melepas kaos dan celananya hingga tinggal bikini putih, tampakbody-nya yang sexy dan menggairahkan. Kupeluk tubuh sintal Desi, dia membalasmemelukku sambil melucuti pakaianku, tinggal celana dalam menutupi tubuhku,kurebahkan tubuhnya di ranjang, kutindih tubuhnya dan kuciumi bibir danlehernya, aku masih terbayang tubuh mulus Febi yang sedang dicumbui pacarnya,kalau dibandingkan antara Desi dan Febi memang keponakanku lebih unggul baikdari kecantikan maupun body-nya. Tanpa sadar sambil mencium dan mencumbunya akumembayangkan tubuh Febi, hal yang tak pernah terlintas sebelumnya.
<o> </o>
Kami sama sama telanjang tak lama kemudian, aku mengagumikeindahan buah dada Desi yang padat menantang dengan putting kemerahan,kujilati dan kukulum sambil mempermainkan dengan gigitan lembut, dia menggeliatdan mendesis. Jilatanku turun menyusuri perut dan berhenti di selangkangannya,rambut tipis menghiasi celah kedua kakinya, meski berumur 23 tahun tapi rambutkemaluannya sangat jarang, bahkan seakan Cuma membayang. Desi berusaha menutuprapat kakinya, dengan kesabaran kubimbing posisi kakinya membuka, seakan akusedang memberikan pelajaran pada muridku. Aku sangat yakin kalau ini bukanpertama kali baginya, vaginanya yang masih segar kemerahan seolah memceritakankalau tidak banyak merasakan hubungan sexual, tapi aku tak tahu kebenarannya.Mata Desi melotot ke arahku ketika bibirku menyusuri pahanya dan dia menjerittertahan ketika kusentuh klitorisnya dengan lidahku.
"aahh.. sshh.. ennaak Om, terus Om" desahnyameremas rambutku.
Lidahku menari nari di bagian kewanitaannya, desahnya makinmenjadi meski masih tertahan malu, kupermainkan jari jemariku di putingnya, diamakin menggeliat dalam nikmat. Desi memberiku isyarat untuk posisi 69, kuturutikemauannya.
<o> </o>
"Tadi Febi dengan posisi ini ketika Om datang"katanya sebelum mulutnya tertutup penisku.
Dia menyebut Febi membuatku teringat kembali akankeponakanku, masih terbayang bagaimana dia mengulum penis pacarnya dengan penuhgairah, aku membayangkan seolah sedang bercinta dengan Febi, masih jelas dalambenakku akan kemulusan tubuh telanjang Febi yang selama ini tak pernah akulihat, masih jelas tergambar betapa montoknya buah dada nan indah lagi padat,mungkin lebih montok dari istriku sendiri. Kurasakan Desi kesulitan mengulumpenisku, aku turun dari tubuhnya, kini kepala Desi berada di selangkanganku,dijilatinya kepala penisku.
"Punya Om gede banget sih, nggak muat mulutku, lagianaku nggak pernah melakukannya sama pacarku, aku Cuma melihat tadi Febimelakukannya, jadi aku ingin coba" komentarnya lalu kembali berusahamemasukkan penisku ke mulutnya, kasihan juga aku melihatnya memaksakan diriuntuk mengulumku.
<o> </o>
Kurebahkan tubuh telanjang Desi lalu kuusapkan penisku dibibir vaginanya, tapi sebelum penisku menerobos masuk dia mendorongku menjauh.
"Pake kondom dulu ya Om" katanya sambil bangunmengambil kondom dari tas tangannya.
Aku hampir lupa kalau yang kuhadapi ini seorang mahasiswa,bukan wanita panggilan yang tak peduli pada kondom karena mereka sudah pastimempersiapkan dengan pil anti hamil. Aku jadi teringat Febi, apakah dia jugamenggunakan kondom tadi, tak sempat kuperhatikan. Desi memasangkan kondom dipenisku, kondom itu seperti bergerigi dan bentuknya agak aneh.
"Oleh oleh pacarku dari Singapura, ih susah amat mestipunya Om ukurannya XL kali" katanya lalu dia kembali telentang di depanku.
"Pelan pelan aja ya Om, baru kali ini aku lakukanselain sama pacarku, lagian punya Om jauh lebih besar dari punya dia"bisiknya
<o> </o>
Kembali kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah,perlahan memasuki liang kenikmatan Desi, tubuhnya menegang saat peniskumenerobosnya, terasa begitu rapat, sempit dan kencang, penisku serasadicengkeram, mungkin karena Desi terlalu tegang atau mungkin memang masihpemula. Desi memejamkan mata lalu melotot ke arahku, seakan tak percaya kalaupenisku sedang mengisi vaginanya. Dia menggigit bibir bawahnya, tangannyamencengkeram lenganku, tubuhnya menggeliat ketika penisku melesak semua kevaginanya. Kudiamkan sejenak sambil menikmati cantiknya wajah Desi dalamkenikmatan, dia menahanku ketika aku mulai mengocoknya.
"Jangan dulu Om, penuh banget, seperti menembusperutku" katanya
"Sakit?" tanyaku
"Ya dan enak, seperti perawan dulu" jawabnyasambil mulai menggoyangkan tubuhnya, aku menganggap pertanda sudah bolehbergerak.
<o> </o>
Perlahan aku mulai mengocok vagina Desi, pada mulanyatubuhnya kembali menegang, penisku seperti terjepit di vagina, dia mulaimenggeliat dan mendesah nikmat ketika beberapa kocokan berlalu, mungkin bentukkondom sangat berpengaruh juga pada rangsangan di vaginanya. Penisku bergerakkeluar masuk dengan kecepatan normal, desahnya makin menjadi sambil meremaskedua buah dadanya. Kaki kanannya kunaikkan di pundakku, penisku makin dalammelesak. Entah kenapa, tiba tiba bayangan Febi kembali melintas dipikiranku,terbayang Febi sedang telentang menerima kocokan pacarnya, masih terdengardesahan kenikmatan darinya, maka kupejamkan mataku sambil membayangkan bahwaaku sedang mengocok keponakanku itu. Belum 5 menit aku menikmati vaginanyaketika kurasakan remasan kuat dari vaginanya disertai jeritan orgasme,fantasiku buyar. Desi terlalu cepat mencapai puncak kenikmatan itu, padahal akumasih jauh dari puncaknya, aku ingin tetap mengocoknya tapi dia sepertinyasudah kelelahan dan minta beristirahat sebentar, kupikir tak ada salahnya untukberistirahat dulu, toh kita tidak terburu buru, masih ada waktu semalam hinggabesok. Akhirnya kuturuti permintaannya, kami telentang berdampingan di atasranjang, Desi merebahkan kepalanya di dadaku, kurasakan jantungnya yang kerasberdetak disertai napas yang berat.
"Punya Om sepertinya masih terasa mengganjal di dalam,abis punya Om gede banget sih" bisiknya.
Aku tersenyum menghadapi kemanjaannya.
Kuhubungi Room Service untuk memesan makan siang, barutersadar ternyata kami belum makan, tak ada salahnya menambah tenaga danenergi. Tak lebih dari 10 menit kemudian kudengar bel berbunyi, cepat amatservisnya, pikirku. Kuambil handuk dan kubelitkan di pinggang,kuminta Desimenutupi tubuhnya dengan selimut. Tanpa pikir panjang kubuka pintu dan..sungguh sangat mengagetkanku, bukannya Room Service yang nongol ternyata Febiyang berada di depan pintu, aku terkejut tak menyangka kedatangannya karenamemang aku tak mengharap kedatangannya kali ini. Kusesali kecerobohanku untuktidak mengintip terlebih dahulu dari lubang di pintu.
<o> </o>
Febi langsung menerobos masuk, seperti biasa seolah takpernah terjadi sesuatu, dengan manja Febi memelukku seperti layaknya seorangkeponakan, kucium pipi kiri kanannya, hal yang biasa kami lakukan, tapi kaliini aku merasakan getaran yang tidak seperti biasanya, aku bisa merasakan tonjolanbuah dadanya yang montok mengganjal di dadaku, padahal tak pernah terjadisebelumnya. Dia langsung nyelonong masuk ke dalam.
<o> </o>
"Om lagi mandi ya, malam ini Om harus traktir Febidan temenin aku.. Mbak Desi!"
Belum sempat dia menyelesaikan kata katanya ketikamelihat Desi di ranjang, melihat ke arahku lalu kembali lagi ke Desi. Kamitertangkap basah, tak ada lagi alasan untuk mengelak, aku diam seribu basamenunggu reaksi dari Febi. Sebelum aku tahu harus berbuat apa, Desi bangun dariranjang, menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut lalu menggandeng Febi kekamar mandi, sekilas kulihat mukanya merona merah seperti orang marah.Kukenakan piyama yang ada dilemari menunggu kedua gadis itu, pasrah menerimanasib selanjutnya, meski tidak terlalu khawatir karena aku juga memegangkartunya Febi. Bel pintu kembali berbunyi ketika kedua gadis itu masih di kamarmandi, ternyata Room Service pesanan kami, mereka keluar sesaat setelahWaitress menutup pintu kamar. Bertiga kami makan dalam kebisuan setelah Desi mengenakanpiyama yang sama denganku, dia berbagi makanan dengan Febi karena memangpesanan Cuma untuk kami berdua, tak ada kata yang terucap selama makan.
<o> </o>
Aku tak berani membuka topik karena belum tahu bagaimanasikap mereka terhadap kejadian ini.
"Om, kita saling jaga rahasia ya, just keep amongus, aku nggak keberatan Om sama Mbak Desi asal Om juga tidak cerita sama MbakLily tentang kejadian tadi siang" Febi membuka percakapan, aku merasakanlampu kuning mengarah hijau darinya.
Febi melanjutkan, "Karena tadi Om melihatku samaDoni, aku juga ingin melihat Om sama Mbak Desi" lanjutnya mengagetkan, akutak tahu apa maunya anak ini.
"Terserah kamu Feb, toh aku juga udah biasa melihatkamu main sama pacar pacarmu" kata Desi lalu duduk dipangkuanku dengan sikappamer.
Sebenarnya agak segan juga kalau harus melakukannyadidepan keponakanku sendiri, tapi Sebelum aku protes, Desi sudah mendaratkanbibirnya di bibirku, tangannya menyelip diselangkanganku, meremas penisku danmengocoknya. Mau tak mau Kubalas dengan lumatan di bibir dan remasan di buahdadanya, rasa seganku perlahan hilang berganti dengan birahi dan sensasi, Febiseakan tidak melihat kami, menghabiskan sisa makanan yang masih ada di atasmeja. Kami saling melepas piyama hingga telanjang di depan Febi. Desi merosotturun diantara kakiku, menjilati dan mengulum kemaluanku. Terkadang kurasakangiginya mengenai batang penis tegangku, maklum masih pemula.
<o> </o>
"Feb, lihat punya Om-mu, besar mana sama punyaDoni" Desi memamerkan penis tegangku yang ada digenggamannya.
"Wow, gede banget" sahut Febi lalu memandang kearahku.
"Bisa pingsan kamu kalau segede itu" lanjutnyadengan nada kagum
"Nggak tuh, enak lagi, coba aja sendiri" jawabDesi melanjutkan kulumannya, kulihat Febi menggeser duduknya melihat peniskukeluar masuk mulut Desi seakan tak percaya kalau dia bisa melakukannya.
"Akhirnya berhasil juga mendapatkan Om-ku yangselama ini kamu kagumi" seloroh Febi mengagetkanku, Desi hanya tersenyum.
"Mau coba?" goda Desi sambil menyodorkanpenisku ke Febi, aku diam saja menunggu reaksi keponakanku, tapi dia diam saja,Desi menjilati penisku seakan memamerkan ke Febi mainannya.
<o> </o>
Febi menggeser lagi mendekati kami, Desi menuntun tanganFebi dan menyentuhkannya ke penisku, ada ke-ragu raguan di wajahnya untukmenyentuh penis Om-nya. Wajah putihnya bersemu merah ketika Desi menggenggamkantangannya ke penisku, dia hanya menggenggam tanpa berani menggerakkantangannya, memandang ke arahku seolah minta pendapat. Aku diam saja, hanyamengangguk kecil pertanda setuju. Perlahan keponakanku mulai meremas penisku,tangannya yang putih mulus sungguh kontras dengan penisku yang kecoklatangelap, makin lama gerakannya berubah dari meremas lalu mengocok, sementara Desimasih asyik menjilati kepala penisku sambil mengelus kantong bola. Gerakanmereka mulai seirama, Febi mengocok keras ketika kepala penisku berada di mulutDesi, aku mendesah kenikmatan dalam permainan kedua gadis ini. Ketika Desimenjilati kantong bola, Febi kembali memandangku, kubalas dengan senyum dananggukan, dia menundukkan kepalanya ke arah penisku, tapi sebelum sampai ketujuannya Desi memotong.
<o> </o>
"Kami sudah telanjang masak kamu masih pakai pakaianlengkap kayak orang mau kuliah, cepat copot gih" katanya kembali menjilatdan mengulum.
Febi terlihat ragu ragu untuk melepas pakaiannya dantelanjang di depanku, dia diam sejenak, aku menghindar ketika dia manatapku,meskipun sebenarnya aku sangat berharap dia melakukannya.
"Kok jadi bengong gitu, kenapa malu, kan Om-mu sudahmelihatmu telanjang tadi dan lagian waktu kecil kan sering dimandiin, jadikenapa risih" goda Desi
Akhirnya Febi tunduk pada godaan Desi, dia membalikkanbadan membelakangiku sambil melepas kaos ketatnya, kulihat punggungnya yangmulus dengan hiasan bra hijau muda, bodynya sungguh menggetarkan tanpa timbunanlemak di perutnya, ketika jeans-nya dilepas, aku makin kagum denganke-sexy-annya, pantatnya padat membentuk body seperti gitar spanyol nan indah,baru sekarang aku menyadari betapa keponakanku tumbuh menjadi seorang gadisyang menawan, selama ini pengamatan seperti ini telah kulewatkan, aku hanyamelihatnya sebagai seorang gadis kecil yang selalu manja, tapi tak pernahmelihatnya sebagai seorang gadis cantik yang penuh gairah.
<o> </o>
Darahku berdesir makin kencang saat Febi membalikkanbadannya menghadapku, buah dadanya yang sungguh montok indah nian terbungkusbra satin, kaki bukitnya menonjol seakan ingin berontak dari kungkungannya,kaki Febi yang putih mulus berhias celana dalam hijau mini di selangkangannyamenutupi bagian indah kewanitaannya. Febi menyilangkan tangannya di dadanyaseakan menutupi tubuhnya dari sorotan mata nakalku.
"Alaa sok suci kamu, lepas aja BH-mu sekalian"Desi kembali menggoda tapi kali ini Febi tak menurutinya, dengan masih memakaibikini dia ikutan Desi mengeroyok selangkanganku, tangannya berebut dengan Desimengocokku, kutarik tubuh Desi untuk duduk disampingku, aku ingin melihat saatpertama kali keponakanku menjilat dan mengulum penisku tanpa gangguan Desi.
<o> </o>
Mula mula agak ragu dia menjilati kepala penisku tapiakhirnya dengan penuh gairah lidahnya menyusuri seluruh bagian kejantanankusebelum akhirnya memasukkan ke mulutnya yang mungil, aku mendesis penuhkenikmatan saat pertama kali penisku menerobos bibir dan mulut Febi, sungguhkenikmatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, kenikmatan yang bercampurdengan sensasi yang hebat, mendapat permainan oral dari keponakanku sendiri. Peniskumakin cepat meluncur keluar masuk mulut Febi. Diluar dugaanku ternyata Febisangat mahir bermain oral, jauh lebih mahir dibandingkan Desi, sepertinya dialebih berpengalaman dari sobat sekamarnya. Lidah Febi menari nari di kepalapenisku saat berada di mulutnya, sungguh ketrampilan yang hanya dimiliki merekayang sudah terbiasa, aku harus jujur kalau permainan oral keponakanku menyamaitantenya yaitu istriku. Begitu penuh gairah Febi memainkan penisku membuatkuterhanyut dalam lautan kenikmatan, kepalanya bergerak liar turun naikdiselangkanganku. Aku mendesah makin lepas dalam nikmat.
<o> </o>
Desi kembali ke selangkanganku, kini kedua gadisbergantian memasukkan penisku ke mulutnya diselingi permainan dua lidah yangmenyusuri kejantananku secara bersamaan, aku melayang makin tinggi. Desimemasang kondom, bentuknya unik berbeda dengan sebelumnya, dikulumnya sebentarpenisku yang terbungkus kondom lalu dia naik ke pangkuanku, menyapukan kevaginanya dan melesaklah penisku menerobos liang kenikmatannya saat diamenurunkan badan.
"Aduuhh.. sshh.. gila Feb, punya Om-mu enak banget,penuh rasanya" komentarnya setelah penisku tertanam semua di liangvaginanya.
Febi duduk di sebelahku melihat sahabatnya merasakankenikmatan dari Om-nya, aku masih ragu untuk mulai menjamah tubuh Febi, selamaini yang kami lakukan hanya peluk dan cium dari seorang Om kepada keponakannyayang masih kecil, tapi kini aku harus melihatnya sebagai seorang gadis sexyyang menggairahkan. Belum ada keberanianku mulai menikmati tubuh sintal keponakanku,hanya memandang dengan kagum dan penuh hasrat gairah.
"aagghh.. uff.. Feb.. lepas dong bikinimu, kamuharus merasakan nikmatnya Om-mu" Desi ngoceh disela desahannya.
<o> </o>
Sepertinya antara aku dan Febi saling menunggu, sama samarisih dan malu untuk mulai, ketika desahan Desi makin liar aku tak tahan lagi,kuraih kepala Febi dalam rangkulanku dan kucium bibirnya. Ada perasaan anehketika bibirku menyentuh bibirnya, perasaan yang tidak pernah kujumpai ketikaberciuman dengan wanita manapun, mungkin hubungan batin sebagai seorang Ommasih membatasi kami. Setelah sesaat berciuman agak canggung, akhirnya kamimulai menyesuaikan diri, saling melumat dan bermain lidah, jauh lebih bergairahdibanding dengan Desi atau lainnya, kami seolah sepasang kekasih yang sudahlama tidak bertemu. Kocokan Desi makin liar tapi lumatan bibir lembut Febi takkalah nikmatnya.
<o> </o>
Agak gemetar tanganku ketika mulai mengelus punggungtelanjang Febi, dengan susah payah, meskipun biasanya cukup dengan tiga jari,aku berhasil melepas kaitan bra yang ada di punggung. Masih tetap berciumankulepas bra-nya, tanganku masih gemetar ketika menyusuri bukit di dada Febi,begitu kenyal dan padat berisi, kuhentikan ciumanku untuk melihat keindahanbuah dadanya, jantungku seakan berdetak 3 kali lebih cepat melihat betapa indahdan menantang kedua bukitnya yang berhiaskan putting kemerahan di puncaknya, Ihave no idea berapa orang yang sudah menikmati keindahan ini.
<o> </o>
Desah kenikmatan Desi sudah tak kuperhatikan lagi, kuusapdan kuremas dengan lembut, kurasakan kenikmatan kelembutan kulit dankekenyalannya, gemas aku dibuatnya. Febi menyodorkan buah dadanya ke mukaku,langsung kusambut dengan jilatan lidah di putingnya dan dilanjutkan dengansedotan ringan, dia menggelinjang meremas rambutku. Belum puas aku mengulumputting Febi, Desi sudah turun dari pangkuanku, lalu kami pindah ke ranjang,Desi nungging mengambil mengambil posisi doggie, langsung kukocok dia daribelakang sambil memeluk tubuh sexy Febi. Kukulum putting kemerahannya untukkesekian kalinya bergantian dari satu puncak ke puncak lainnya, Febi mendesisnikmat, inilah pertama kali kudengar desahan nikmat langsung darinya, begitumerangsang dan penuh gairah di telinga.
<o> </o>
Tanpa kusadari, ternyata Febi sudah melepas celanadalamnya, aku kembali terkesima untuk kesekian kalinya, selangkangannya yangindah berhias bulu kemaluan yang sangat tipis, bahkan nyaris tak ada, sungguhindah dilihat. Gerakan pinggul Desi makin tak beraturan, antara maju mundur danberputar, penisku seperti diremas remas di vaginanya, sungguh nikmat, kali iniDesi bisa bertahan lebih lama. Kami berganti posisi, aku telentang diantarakedua gadis cantik ini dengan penis yang masih tegak tegang menantang.
"Feb, gantian, kamu harus coba nikmatnya Om-mu"Desi mempersilahkan Febi, tapi aku menolak dan minta Desi segera naikmelanjutkannya.
<o> </o>
Terus terang, jauh di lubuk hati ini masih menolak untukbercinta atau bersenggama dengan Febi, aku masih harus berpikir panjang untukbertindak lebih jauh dari sekedar oral, saat ini belum bisa menerima untukmelanjutkan ke senggama atau tidak, aku belum tahu. Desi kembali bergoyangpinggul di atasku, Febi kuberi isyarat untuk naik ke kepalaku, dia langsungmengerti, kakinya dibuka lebar di depan mukaku, terlihat dengan jelas vaginanyayang masih kemerahan seperti daging segar, kepalaku langsung terbenam diselangkangannya, lidahku menyusuri bibir dan klitorisnya sambil meremaspantatnya yang padat, desahan Febi bersahutan dengan Desi. Seperti halnya Desi,kedua gadis ini menggoyangkan pinggulnya di atasku, vagina Febi menyapu seluruhwajahku. Febi mendesah keras dan tubuhnya menegang ketika kusedot vaginanya,hampir dia menduduki wajahku. Desi minta bertukar tempat, rupanya dia inginmendapatkan kenikmatan seperti yang aku berikan ke keponakanku. Kini vaginaDesi yang basah tepat di atas mukaku, sementara Febi melepas kondom yangmembalut penisku, membersihkan sisa cairan dari vagina Desi dengan selimut lalumulai menjilatinya.
<o> </o>
Rasa asin dari vagina Desi tak kuperhatikan, cairannyamenyapu mukaku, sementara kemaluanku sudah mengisi rongga mulut Febi dengancepatnya. Aku begitu asyik menikmati vagina Desi dengan lidahku, tanpa kusadariFebi sudah mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, aku barutersadar ketika Febi sudah naik di atas tubuhku dan menyapukan penisku ke bibirvaginanya, aku harus mencegahnya, pikirku, karena masih belum memutuskan apakahharus melakukannya, hati kecilku masih belum menerima kalau aku bercinta dengankeponakanku sendiri.