Sudah lima belas menit kami membiarkan Tari tertelungkup di meja. Ia masih terisak-isak. Kulihat sperma tiga lelaki mengalir dari anusnya ke kedua belah pahanya.
Kuperlihatkan jam tanganku kepada teman-temanku. Mereka bangkit dan memapah Tari. "Yuk kita pulang Mbak. Sudah siang. Nanti suami Mbak curiga kalau dia pulang Mbak nggak di rumah," kata Al.
Mereka membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Memakaikan kembali jubah hijau muda Tari tanpa memandikannya lagi. Akibatnya, bagian belakang jubah Tari basah oleh sperma yang terus mengalir dari anusnya.
Tak lama kemudian, kami sudah berada di dalam mobil. Tari dipangku tiga lelaki di jok tengah. Aku di bagian kaki. Kedua tangan Tari masih terikat. Matanya pun tertutup oleh ikatan kain hitam.
Kusingkapkan jubah Tari sampai ke pinggang. Dengan tissue kubersihkan vaginanya dari lelehan sperma dan bubur pisang. Al di bagian tengah tak bosan-bosannya meremas-remas payudara Tari yang dikeluarkannya dari balik jubahnya.
Sampai di rumah, mereka membawa Tari ke sofa. Al sibuk menghubungkan handycam dengan TV. Aku ada di balik lemari, melihat Bob memangku Tari, sambil melepaskan penutup matanya.
TV sudah menyala dan memperlihatkan rekaman aksi kami memperkosa Tari. Tari memalingkan wajahnya, tetapi Bob memaksanya tetap menonton. Terutama adegan ketika ia orgasme lantaran ulah Al.
"Lihat itu, Mbak Tari. Dengan itu Mr X bisa memeras suami Mbak. Dengan rekaman itu pula, kami bisa memaksa Mbak melayani kami kapanpun kami mau," kata Bob sambil meremas-remas payudara istriku.
Tari menangis tersedu-sedu. Kuberi kode kepada Al agar mendekat. "Suruh pak Bob memperkosa dia lagi sambil duduk. Aku mau telepon Tari saat kont*l Bob mengaduk-aduk mem*knya," kataku.
Al berbalik dan kulihat ia berbisik kepada Bob. Bob tertawa.
"Oke Mbak Tari, sebentar lagi mungkin suamimu pulang. Aku mau ngent*t kamu sekali lagi. Boleh ya ?" kata Bob.
Tari menoleh dan melotot.
"Kamu ini ! Apa belum puas menyiksa saya !?" teriaknya histeris.
"Belum," kata Bob kalem sambil membalikkan tubuh Tari hingga kini duduk di lantai, di hadapannya.
"Ayo, emut kont*lku supaya basah. Kalau kering, nanti mem*kmu lecet," katanya sambil melepas celananya. Penisnya terlihat masih lembek. "Cepat. Ingat, kamu nggak bisa nolak karena rekaman itu bisa dilihat suamimu, kalau kamu membantah," lanjutnya.
Tari tak berdaya. Kulihat ia kini menggenggam penis Bob dan mulai mengulumnya. Dari belakang, Al menyingkapkan jubah hijau Tari. Anusnya masih basah oleh sperma. Al mengorek-ngorek vagina dan anus Tari dengan jarinya.
Penis Bob sudah mengacung. Dibimbingnya Tari naik ke Sofa, mengangkangi dirinya yang berbaring. Akhirnya, kulihat Tari menurunkan tubuhnya. Penis Bob pun masuk ke vaginanya.
"Ayo Mbak Tari, nikmati saja. Anggap saja aku suamimu," kata Bob. Ia pun kini menyerang kedua payudara Tari. Dikulumnya kedua putingnya berganti-ganti.
Pada posisi seperti itu, biasanya Tari mudah mencapai orgasme. Apalagi dengan puting yang terus diserang. Dan memang, kudengar Tari mulai mendesah, mengerang dan merintih. Kuihat juga kini ia yang aktif menaikturunkan dan memutar-mutar pinggulnya.
Saat desahannya makin keras terdengar, kutelepon nomor seluler istriku. Tari terkejut mendengar handphonenya berdering.
"Ounnghh... itu... mungkin suamiku..." katanya.
"Nggak apa-apa, kita teruskan saja," kata Bob sambil terus menyerang puting Tari.
Al mengambilkan handphone Tari dan menyerahkannya. "Dari suamimu," kata Al. Di layar handphone memang tertulis namaku.
Tari tampak ragu. Nafasnya masih tersengal-sengal. Apalagi, Bob masih menaikturunkan penisnya.
"Dijawab saja, nanti suamimu curiga," kata Al sambil menekan tombol 'yes' pada handphone yang dipegang Tari.
"I... i...ya... ada apa, Mas ?" Kudengar Tari menjawab. Suaranya sangat menggairahkan.
"Lagi apa sayang ?" tanyaku.
"Eunghhh... ini, lagi sibuk..."
"Kok suaramu seperti waktu kita bercinta dan kamu hampir orgasme ?" kugoda dia.
"Ehhh... ti...tidak... Aku lagi angkat cucian pakaian... ughhh.... berat," katanya bersandiwara.
"Ya sudah, nanti malam aku buat kamu orgasme mau ?"
"Eunghhh... jangan.... aku capek sekali..." jawabnya.
"Yaaa, bagaimana dong ? Batangku sudah keras sekali nih. Di-oral saja ya ?"
"Iya...i...iyahhh..."
"Spermaku ditelan ya ?"
"I...iyahhh... eh... enggak.. aduhhh.. iyahh..."
"Kenapa, kok aduh ?"
"Ini... iniku digigit ...semut..."
"Apa yang digigit semut nakal itu ?"
"Ini... tetek... aduhhhh..." kulihat Bob menggigit puting Tari.
"Wah, itu semut nakal betul. Nanti aku boleh gigit tetekmu kan, sayang ?"
"Iya.., boleh... aduhhh..."
"Aku ingin mendengarmu bicara yang agak jorok boleh ?"
"Engghhh... bagaimana ?"
"Tolong bilang...seperti di film blue itu lho... bilang begini, come on fu*k me, ohhh...yesss... oh yesss... begitu. Ayo sayang..."
Saat itulah Bob menggenjot lebih kuat.
"Iyaahhhh... come on... ounghhh.. fu*k me...yess... yess..." Tari menjerit.
"Ahhh... terima kasih sayang. Nanti aku pulang jam 8 malam. Jangan lupa, aku ingin dioral gadis berjilbab sepertimu... bye mmuuacchhh..."
Kututup telepon. Lalu kuberi kode kepada Al agar menyumbat mulut Tari dengan penisnya.
Tari mengerang-erang. Tubuhnya menelungkup di atas tubuh Bob dengan vaginanya terus ditusuk-tusuk penis Bob. Al sudah menyumbat mulut Tari dengan penisnya.
Dari belakang, aku mendatangi Tari. Kusingkapkan jubahnya hingga pinggang. Kujaga agar ia tidak menoleh ke belakang dan melihat suaminya.
Langsung aku masukkan dua jariku ke anusnya. Tari mengerang keras. Erangannya makin menjadi saat akhirnya aku menyodominya lagi.
Ada lima menitan aku melakukan itu. Tapi aku punya ide baru. Kutarik keluar penisku. Dan kini kuarahkan ke vaginanya yang sedang melayani penis Bob.
Ughhh... tak mudah, tapi akhirnya masuk juga. Tubuh Tari mengejang. Ia mengerang panjang. Al memegangi kepalanya yang berjilbab karena Tari terlihat seperti hendak menoleh ke belakang.
Lima menit juga penisku dan penis Bob mengaduk-aduk vaginanya. Bob sudah tidak tahan. Ia menumpahkan spermanya di dalam. Terasa sperma Bob juga membasahi penisku. Gerakan penisku akhirnya menarik penis Bob yang telah lembek keluar.
Kupindahkan lagi penisku ke anus istriku. Kugenjot dengan cepat dan akhirnya kutumpahkan ke dalam sana. Cepat kubersihkan penisku dengan jubah istriku. Lalu, aku kembali ke tempat persembunyianku.
Kini Al yang menyetubuhi istriku. Tampaknya ia juga memindah-mindahkan penisnya dari vagina ke anus. Ben yang sejak tadi hanya menonton, ganti memaksa Tari mengulum penisnya.
Dua pemerkosa terakhir itu akhirnya menuntaskan hasrat mereka dengan membuang sperma mereka ke wajah Tari.
"Sudah ya, Mbak tari. Kapan-kapan kita ketemu lagi," kata Bob, sambil mencubit puting istriku yang terbaring lemah di sofa.
***
"Thank's friend. Your wife sungguh luar biasa," kata Bob sambil menyalamiku ketika kami akhirnya berpisah kembali di rumahnya.
Al dan Ben juga menyalamiku.
"Aku suka suaranya waktu orgasme," kata Al.
"Well, aku juga ingin dengar suara pacarmu saat orgasme," sahutku.
"OK, itu bisa diatur," katanya.
Aku pergi dari rumah Bob dengan perasaan campur aduk. Gairah, puas sekaligus kasihan pada Tari. Tapi, hasrat tergilaku sudah terlampiaskan. Sekarang aku harus kembali ke kantor.
***
Aku pulang kantor pukul 8 malam. Tari sudah tidur. Tapi aku boleh masuk rumah karena aku punya kunci cadangan.
Kulihat Tari tidur dengan memeluk tubuhnya. Ia tampak amat lelah. Tetapi begitu melihatku datang, ia bangkit dan langsung memelukku.
"Kenapa ?" tanyaku.
"Kepalaku sakit... " katanya.
"Berarti tak jadi mengulum iniku ?" Kubimbing tangannya ke pangkal pahaku.
"Maas... aku pusing... " keluhnya.
Kusentuh pangkal pahanya. Tapi ia menghindar dengan halus. "Nanti kalau sudah nggak pusing ya ?" katanya.
"Oke. No problem," sahutku.
Aku kemudian ke kamar mandi. Melewati mesin cuci, hatiku tergerak untuk membukanya. Ada jilbab putih lebar, anak jilbab pink dan jubah hijau muda. Kuangkat pakaian favoritku itu. Ufhhh... betul-betul beraroma sperma !
Tengah malam aku terbangun. Kulihat Tari masih lelap terlentang di sebelahku. Kusingkapkan bagian bawah baju tidurnya. Vaginanya terlihat lebih gemuk dari biasanya. Kulitnya pun memerah. Kurapikan lagi pakaiannya. Lalu kubuka di bagian dadanya. Kulit payudaranya yang putih mulus juga terlihat memerah. Di beberapa bagian dekat putingnya bahkan terlihat bekas-bekas lovebite.